CPO dan Tambang Tetap Jadi Penopang Ekspor 2009

CPO dan Tambang Tetap Jadi Penopang Ekspor 2009

- detikFinance
Kamis, 16 Apr 2009 19:10 WIB
CPO dan Tambang Tetap Jadi Penopang Ekspor 2009
Jakarta - CPO dan pertambangan masih menjadi penopang aktivitas ekspor Indonesia pada tahun ini. Hal ini karena kebanyakan kontrak ekspor komoditi tersebut merupakan jangka panjang yang bisa bertahan di tengah krisis.
 
Demikian disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu usai Rakor Menteri  di Kantor Departemen Koordinator Perekonomian, Jakarta, Kamis (16/4/2009).
 
"Tetap untuk basic primary product terutama CPO dan pertambangan," ujar Mari.
 
Menurut Mari, meskipun terjadi permintaan dunia namun sebagian besar transaksi komoditi tambang menggunakan kontrak jangka panjang.

"Intinya walaupun terjadi penurunan permintaan di dunia tapi untuk pertambangan, seperti batubara misalnya, penggunaannya untuk pembangkit listrik itu biasanya long term contract. Mereka mengurangi tapi tidak batalkan," katanya.
 
Begitupun dengan CPO, dimana negara-negara pengimpor CPO dari Indonesia tetap melakukan kegiatan impornya. Sebut saja India dan China yang meskipun terkena krisis global namun tetap membutuhkan produk-produk CPO.
 
"India, China dan juga negara importir tetap membutuhkan minyak goreng. Karena itu basic food yang mereka perlukan. Dari segi volume menurunnya tidak separah dari produk manufaktur yang lain," paparnya.
 
Sedangkan untuk elekronik dan TPT, meskipun kelihatannya menurun  namun tidak sedratis negara lain. Posisi Indonesia saat ini terbilang cukup kompetitif dibandingkan China.

"Karena kurs saja misalnya kita depresiasi, dia apresiasi jadi masih ada ruang geraknya," ungkapnya.
 
Namun kenyataanya, anjloknya volume permintaan dunia cukup besar sehingga ada beberapa produk yang pasti akan mengalami penurunan yang signifikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk beberapa produk kita tidak bisa ingkari bahwa permintaannya akan turun," ungkapnya.
 
Selain itu, Mari menambahkan, pihaknya juga akan mencoba mempertahankan pasar yang dimilikinya.

"Kita juga coba perluas. Intinya lebih bersaing dengan negara lain, mengambil sebagian dari pasar yang sebetulnya disi negara lain. Kemudian penetrasi pasar yang baru seperti Timur Tengah negara-negara rekontruksi seperti Libya, Afganistan, dan Irak karena mereka dalam proses rekontruksi maka dia tidak terpengaruh krisis sudah punya dana," tandasnya.

(epi/lih)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads