Demikian disampaikan Dirjen Migas Evita Legowo usai Launching Pelayanan Investasi Migas Terpadu dan Gerakan Hemat BBM di Gedung Ditrektorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Plaza Centris, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Jumat (17/4/2009).
"Indikasi awal terdapat 30-40 ribu barel per hari ini minyak dari lima sumur di lapangan Aster di wilayah Ambalat," jelas Evita.
Evita menjelaskan, tahap selanjutnya adalah pelaksanaan Drill Stand Test (DST) di lapangan Aster selama 2 -3 bulan. Tes inilah yang menentukan apakah target produksi pada 2010 bisa tercapai.
"Kita akan lakukan Drill Stand Test (DST) dulu dalam 2-3 bulan. Ini test pertama, kalau berhasil maka tahun 2010 bisa mulai produksi, kita hati-hati karena letaknya di perbatasan," kata Evita.
Terkait letak lapangan yang berbatasan dengan Malaysia, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menghimbau agar tidak ada kekhawatiran terkait hal tersebut.
"Ambalat adalah bagian dari wilayah NKRI karena itu sebetulnya wilayah kita di klaim mereka karena mereka bisa klaim wilayah Sipadan dan linggitan, ini tidak bisa," tegasnya.
Bahkan Purnomo mengakui pihak Malaysia telah meminta agar wilayah tersebut dijadikan sebagai wilayah operasi bersama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk membahas berbagai persiapan pengembangan lapangan, pemerintah akan segera bertemu dengan CEO ENI dalam waktu dekat.
"Kami akan segera bertemu dengan CEO ENI untuk membahas hal ini," katanya.
ENI memang sudah meminta dukungan keamanan dari pemerintah Indonesia untuk pengembangan lapangan Ambalat. Lokasinya yang berbatasan dengan Malaysia membuat negeri Jiran itu juga tergiur akan potensi blok Ambalat.
ENI sendiri rencananya akan membangun LNG terminal terapung (floating LNG terminal) di blok Ambalat.
(epi/lih)










































