Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Evita Herawati Legowo usai Launching Pelayanan Investasi Migas Terpadu dan Gerakan Hemat BBM di Gedung Ditrektorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Plaza Centris, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Jumat (17/4/2009).
"Ini sudah kita usahakan. Kita sudah kita hubungi pemerintah daerah supaya berikan izin," ujar Evita.
Menurut Evita, hal ini terjadi karena adanya kesalahan komunikasi antara kedua belah pihak, yaitu pemerintah daerah dan pengelola blok Cepu.
"Kelihatannya ada kekurangajelasan di berbagai pihak. Bagaimana untuk daerahnya seperti apa. Hubungannya seperti apa. Tapi mudah-mudahan tidak ada masalah," ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro berharap hasil produksi dari lapangan baru seperti blok Cepu bisa menutupi penurunan produksi yang terjadi di lapangan milik Chevron sehingga target produksi minyak 1 juta barel per hari pada tahun 2025.
"Kita sadari produksi kita turun. Apalagi porsi kontribusi terbesar dimiliki Chevron yang turun 12 persen per tahun produksinya. Artinya untuk menutupinya bisa dari lapangan baru seperti Cepu dan beberapa lapangan besar yang memproduksi kondensat seperti Tangguh, Cepu dan juga beberapa tambang di Kaltim," ungkapnya.
Lagipula, imbuh Purnomo, pendapatan negara tidak hanya berasal dari minyak namun juga berasal dari gas. Aktivitas ekspor gas bisa mendatangkan devisa bagi negara.
"Kita jangan melihat secara mikro. Kita tingkatkan produksi dengan penemuan-penemuan baru dan beberapa lapangan gas yang selain diprioritaskan untuk domestik namun juga bagi penerimaan negara," paparnya.
(epi/lih)











































