Ekonomi Dunia Minus 1,3% Tahun 2009

Ekonomi Dunia Minus 1,3% Tahun 2009

- detikFinance
Kamis, 23 Apr 2009 10:36 WIB
Ekonomi Dunia Minus 1,3% Tahun 2009
Washington - Perekonomian dunia diprediksi mengalami pertumbuhan minus 1,3% di tahun 2009. Perekonomian dunia baru positif lagi pada tahun 2010, dengan perkiraan pertumbuhan sekitar 1,9%.

Demikian World Economic Outlook (WEO) yang dirilis April, Kamis (23/4/2009). Hampir sebagian besar kawasan diprediksi mengalami pertumbuhan minus selama tahun 2009, sebelum akhirnya membaik di 2010.

Proyeksi yang dirilis dalam WEO April ini berarti mengalami perubahan yang lebih baik ketimbang WEO pada Januari 2009 yang memrediksi pertumbuhan ekonomi dunia akan terus minus selama 2 tahun yakni -1,8% tahun 2009 dan -1,1% di 2010.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam proyeksi WEO April ini, perekonomian AS masih akan mengalami pukulan terbesar dengan pertumbuhan minus 2,8% tahun 2009 dan nol persen di 2009. Dalam proyeksi sebelumnya, AS diprediksi tumbuh -1,2% di 2009 dan -1,6% di 2010.

Perekonomian negara-negara maju diprediksi akan mengalami pukulan yang paling berat. Khusus untuk ASEAN-5, IMF memrediksi pada tahun 2009 akan mengalami pertumbuhan nol persen di tahun 2009 dan 2,3%di tahun 2010. Proyeksi ini lebih baik karena sebelumnya IMF memperkirakan ASEAN-5 tumbuh -2,7% di 2009 dan -1,8% di 2010.

"Perekonomian global berada dalam resesi yang hebat karena krisis finansial besar dan menyebabkan hilangnya kepercayaan," jelas IMF seperti dikutip dari situsnya, Kamis (23/4/2009).

IMF melihat perekonomian dunia kini tergelincir pada resesi terburuk sejak perang dunia II. Proyeksi ekonomi dunia juga berada dalam ketidakpastian dengan risiko pelemahan yang besar.

IMF juga menyatakan bahwa meluasnya pelemahan ekonomi dunia ini berasal dari eskalasi dramatis dari krisis finansial sejak September 2008 lalu, menyusul kolapsnya bank investasi AS Lehman Brothers.

"Stabilisasi finansial bakal lebih lama dari digambarkan sebelumnya karena melibatkan kompleksitas dari aset-aset yang macet dan pemulihan kepercayaan pada neraca perbankan," jelas IMF.

(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads