Setumpuk PR Menteri ESDM Baru

Setumpuk PR Menteri ESDM Baru

- detikFinance
Kamis, 23 Apr 2009 18:57 WIB
Setumpuk PR Menteri ESDM Baru
Jakarta - Setelah 3 periode menjabat sebagai Menteri Energi  Sumber Daya Mineral  (ESDM), Purnomo Yusgiantoro mengakui kemandirian energi nasional hingga  kini masih belum bisa terpenuhi. Ia pun menyiapkan setumpuk pekerjaan  rumah untuk sang penggantinya kelak.
 
Hal ini disampaikan Menteri Energi  Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo  Yusgiantoro dalam Seminar 'Mampukah Sektor Migas Berkontribusi Menuju  Kemandirian Energi Nasional' di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta,  Kamis (23/4/2009).
 
"Siapapun menterinya nanti, dia harus fokus membangun sektor downstream  (hilir). Masalah kemandirian energi ini terletak pada carut marutnya di  bidang downstream," kata Purnomo.
 
Purnomo mengakui, selama ini Indonesia terlalu fokus pada kegiatan di  sektor hulu tanpa memikirkan pembangunan infrastruktur di sektor hilir.

"Kita terlalu fokus ke suplai side (kegiatan hulu), tanpa membangun  infrastruktur energi di sektor hilir," katanya.  

Untuk itu, ia menegaskan Indonesia sudah seharusnya mulai membangun  infrastruktur yang memadai saat ini. Pembangunan harus mulai dilakukan  sekarang karena kebanyakan infrastruktur tersebut baru akan selesai  sekitar 3-4 tahun lagi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih fokus lagi, Purnomo juga menyampaikan wejangannya untuk BUMN  terbesar yang bergerak di bidang migas, yaitu Pertamina. Ia meminta agar Pertamina terus berusaha hingga bisa tetapp menjadi pemimpin dalam  bisnis retail BBM meski kini banyak perusahaan-perusahaan asing yang  membangun SPBU.

"Saya sampaikan kepada Pertamina jangan sampai kalah dari Shell,  Petronas dan Total. Kita inginkan Pertamina menjadi market leader,"  kata Purnomo.
 
Purnomo berharap Pertamina bisa tetap menjadi pemimpin pasar di  negerinya sendiri. Untuk itu Pertamina diminta memperbaiki infrastruktur pendistribusian BBM-nya.
 
Pada kesempatan yang sama, Purnomo mengakui hingga saat ini infrastruktur di hilir minyak dan gas bumi memang masih kurang memadai. Ia mencontohkan, ekspor gas ke luar negeri terjadi disebabkan pasar  domestik tidak berkembang karena tidaknya infrastruktur yang memadai. 
 
"Maka sekarang kita bangun infrastruktur untuk energi, tapi itu  membutuhkan waktu 3-5 tahun ke depan," jelasnya.

(lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads