Perusahaan AS dengan Reputasi Terburuk

Perusahaan AS dengan Reputasi Terburuk

- detikFinance
Selasa, 28 Apr 2009 11:34 WIB
Perusahaan AS dengan Reputasi Terburuk
Boston - Reputasi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) terus memburuk, seiring krisis yang menyebabkan mereka harus mendapatkan pertolongan dari pemerintah. Perusahaan mana yang terburuk?

Berdasarkan hasil survei dari Harris Interactive, sebanyak 88% responden menyatakan bahwa reputasi korporasi AS adalah antara 'tidak baik' dan 'menyedihkan'. Hasil survei untuk yang memilih kedua reputasi tersebut berarti yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

"Apa yang mengejutkan dari studi tahun ini adalah kehilangan kepercayaan atas korporasi AS yang sangat jelas. Fokus atas penghargaan pribadi, fokus pada keserakahan semua menambah kejatuhan reputasi yang cukup besar ini," ujar Robert Fronk, senior vice president Harris Interactive, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (28/4/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Responden menyatakan, resesi ekonomi yang buruk telah menghitamkan prospek dari korporasi AS. Sebanyak 75% melaporkan opini mereka atas korporasi AS terus turun seiring terjadinya krisis. Mereka melihat hanya ada sedikit harapan terhadap perbaikan ekonomi, dengan 43% responden memperkirakan kondisi ekonomi semakin memburuk dalam 6-12 tahun.

Perusahaan-perusahaan yang memiliki reputasi terburuk berdasarkan survei tersebut adalah: American International Group (AIG), Halliburton Co, General Motors Co, Chrysler LLC dan Washington Mutual.

Sementara perusahaan-perusahaan dengan reputasi terbaik adalah Johnson & Johnson, Google Inc, Sony Corp, Coca-Cola Co dan Kraft Foods Inc.

Hal menarik lainnya terkait survei ini adalah jumlah perusahaan jasa finansial yang naik peringkat dalam daftar perusahaan paling visible. Mereka adalah American Express, JPMorgan Chase & Co, Wachovia Corp, Merrill Lynch, Citigroup, Washington Mutual dan AIG.

"Industri jasa finansial sekarang memiliki masalah fundamental dalam mendapatkan kembali kepercayaan dan bisnis dari konsumennya," ujar Fronk.

Sebanyak 98% responden menyatakan bahwa mereka percaya korporasi perlu melakukan hal yang lebih untuk  mengadopsi praktek bisnis yang lebih berkesinambungan. Sementara 85% responden menyatakan perlu ada peraturan yang lebih banyak untuk mendukung.

Survei dilakukan Harris Interactive terhadap 20.483 warga Amerika dalam dua gelombang yakni September 2008 dan Februari 2009.

(qom/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads