RI Siapkan Rp 38 Miliar Tangani Flu Babi

RI Siapkan Rp 38 Miliar Tangani Flu Babi

- detikFinance
Selasa, 28 Apr 2009 15:15 WIB
RI Siapkan Rp 38 Miliar Tangani Flu Babi
Jakarta - Penanganan flu babi saat ini menyedot banyak perhatian negara-negara di dunia, termasuk yang awalnya fokus menangani krisis global. Indonesia sendiri menyiapkan dana sekitar Rp 38 miliar yang diambil dari alokasi penanganan flu burung.

Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (28/4/2009).

"Memang masalah flu babi ini akan sedikit mengalihkan perhatian dari masalah krisis global," ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan, proses menyebarnya virus flu babi ini lebih mirip penyebaran virus SARS dibandingkan dengan flu burung.

"Kalau di antara kita untuk menangani supaya virus itu tidak menyebar, ini lebih mirip SARS daripada flu burung. Kalau flu burung lebih pada domestik sektor, kalau ini (flu babi) kan kayak SARS, lebih berkaitan dengan mobilisasi atau traffic manusia ke manusia," tuturnya.

Dia mengatakan, pemerintah Indonesia sendiri saat ini telah mengambil kebijakan untuk menjaga keamanan dalam negeri dari penyebaran virus tersebut.

"Policy untuk bisa menjaga keamanan Indonesia adalah membuat prosedur atau mekanisme, termasuk memasang peralatan untuk memonitor masuk keluarnya, terutama dari penumpang atau passanger dari luar," ujarnya.

Sementara untuk anggarannya, dikatakan Sri Mulyani, saat ini sudah ada anggaran flu burung yang sampai bulan Maret 2009 belum digunakan.

"Itu masih bisa digunakan. Kalau tidak salah Rp 38 miliar sudah ada, tapi saya lihat dan cek lagi kebutuhan dan tingkat berdasarkan tingkat kebutuhan dan urgensi dari masalah ini," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara dampaknya kepada perekonomian, Sri Mulyani mengatakan, dampaknya akan sama seperti pada waktu penyebaran virus SARS.

"Pasti pada bulan-bulan pertama akan ada situasi yang dianggap cukup mencekam, yang kemudian akan mengurangi traffic, jadi dampaknya itu akan terlihat pada sisi jumlah manusia yang keliling dari satu negara ke negara lain, terutama negara yang dianggap sebagai sumbernya," paparnya.

Lalu pemerintah mengharapkan agar penyebaran virus ini tidak meluas ke seluruh negara di dunia.

"Kita tidak berharap ini menjadi outbreak yang endemik kepada seluruh negara. Potensi itu harus selalu diwaspadai. Berdasarkan pengalaman SARS waktu itu, negara maju biasanya punya mekanisme yang reliable," ujarnya.

"Untuk Indonesia saat ini adalah tentu tergantung situasi endemi atau pandemi. Kita akan lihat bagaimana. Tapi sikap pemerintah selalu prepare for the worst, dan kita expecting for the best," pungkasnya. (dnl/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads