15 Perusahaan Pasif, Program MinyaKita Tak Capai Target

Updated

15 Perusahaan Pasif, Program MinyaKita Tak Capai Target

- detikFinance
Selasa, 28 Apr 2009 18:16 WIB
15 Perusahaan Pasif, Program MinyaKita Tak Capai Target
Jakarta - Program penjualan minyak goreng Minyakita yang berbasis sosial (CSR) ternyata tidak sesuai dengan target. Selama 3 bulan, pelaksanaan hanya baru terealisasi 800 ton, atau jauh dari target semula yaitu 1.000 ton per bulan yang dari target 3.000 ton.

"Dari 28 Januari 2009, realisasinya 800 ton sampai April. Padahal targetnya 1.000 ton per bulannya," kata Direktur Bina Pasar dan Distribusi  Ditjen Perdagangan Dalam Negeri  Jimmy Bella saat ditemui di gedung DPR, Selasa (28/4/2009).

"Jadi bukan karena keterbatasan stok Minyakita. Produsen ternyata awalnya komitmen 24 perusahaan, ternyata yang aktif cuma 9 perusahaan," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dijelaskannya dari 24 perusahaan tersebut, ternyata ada beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pengemasan saja sehingga Badan Pengawas Obat Makanan dan Minuman (BPOM) sulit memberikan izin edar Minyakita-nya.

"Jadi tidak ada jaminan mutu minyak yang diproduksinya," jelasnya.

Meski  program CSR Minyakita belum sesuai dengan harapan, pihaknya akan tetap mendorong perusahaan-perusahan migor untuk melakukan program CSR Minyakita  ke arah Indonesia bagian timur, seperti  Papua, Sulawesi dan lain-lain, yang selam ini sudah berlangsung di Jawa dan Sumatera.

"Belum terealisasi baru mau jalan," katanya.

Ia juga mengatakan, selain melalui CSR para produsen juga diberikan kebebasan untuk melakukan penjualan Minyakita secara komersial. Rencananya  dalam waktu dekat  para produsen Minyakita yang telah melakukan penjualan secara komersial akan melaporkan perkembangannya ke depdag.

Seperti diketahui isu kenaikan harga minyak goreng seringkali dikait-kaitkan dengan praktek dugaan kartel harga para produsen migor. Dugaan itu bukan tanpa alasan, sebab  pada saat harga minyak sawit mentah (CPO) mulai turun beberapa bulan lalu, harga migor tetap bertengger tidak turun.

Padahal pada awal April 2009 lalu saat harga CPO mulai merangkak naik sedikit demi sedikit, ternyata harga migor langsung melesat naik mengikuti pergerakan harga.

Jadi sudah seharusnya bagi produsen migor untuk komitmen dengan program CSR Minyakita-nya, meski secara mendasar program itu sifatnya sukarela, yang selama ini produsen menjual Minyakita dengan harga Rp 6.000 per liter.
(hen/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads