Uang sebesar US$ 5 triliun yang merupakan kesepakatan pertemuan G-20 itu untuk menyuntik IMF dalam rangka ekspansi fiskal 2009-2011.
Dalam forum temu media, Selasa malam (28/4/2009) di kantornya Lapangan Banteng, Sri Mulyani menggambarkan betapa besarnya uang yang dibutuhkan dunia untuk menopang banyak negara sebagai dampak krisis saat ini termasuk US$ 5 triliun untuk IMF.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Uang sebanyak US$ 1 triliun saja kalau dirangkai, bumi kita bisa dikelilingi 2,7 kali keliling," imbuh Sri Mulyani.
Artinya dengan jumlah US$ 5 triliun maka setidaknya mampu mengelilingi planet bumi kita hingga 13,5 kalinya.
Sri Mulyani mengatakan uang sebesar US$ 5 triliun yang disepakati di forum G-20 lalu, diantaranya akan digunakan untuk biaya rekapitalisasi sebesar US$ 1,1 triliun, biaya restrukturisasi toxic asset dan lain-lain.
Ia menjelaskan kondisi krisis saat ini sebelumnya tidak terpikirkan oleh banyak negara termasuk negara-negara maju. Misalnya dapat dilihat dari proyeksi ekonomi dunia yang pada awal 2008 lalu masih positif, namun pada saat ini sudah menjadi kebalikannya.
Untuk pertumbuhan ekonomi dunia menurut versi IMF pada awal tahun 2008 masih ditaksir tumbuh 3,2% kemudian direvisi menjadi -1,3% di 2009, sedangkan volume perdagangan yang semula bisa tumbuh 2,5% justru menjadi sekarang menjadi -11%.
Krisis ini juga akan menyebabkan capital outflow sebanyak US$ 500 miliar ke negara AS dan penurunan nilai aset lembaga keuangan sebanyak US$ 750 miliar.
Sementara itu, kondisi ekonomi Indonesia pada saat ini bisa dibilang masih relatif lebih baik dengan negara-negara lainnya. Misalnya IMF masih memperkirakan Indonesia masih bisa tumbuh 2,5%, sedangkan negara-negara maju sudah dipastikan tumbuh minus di 2009.
Selain itu, kata dia, isu krisis global di Indonesia saat ini relatif lebih adem dibandingkan dengan negara-negara lain karena kebetulan bertepatan dengan pemilu. Kondisi ini justru ini menguntungkan bagi tim ekonomi untuk lebih tenang fokus membahas penyelesaian krisis.
"Krisis ini di kita, tidak menjadi headline, sehingga saya bekeja lebih tenang, tidak kena pressure media. Bisa dengan tenang membuat menuver-manuver kebijakan," ucapnya.
Meskipun dalam beberapa hal, pemerintah juga harus dihadapkan dengan tantangan termasuk bagaimana menggolkan program stimulus fiskal yang tentunya menyangkut persetujuan parlemen. Mengingat proses peneloran stimulus dibanyak negara juga melalui proses politik di parlemen yang berliku-liku karena terkait fungsi budget parlemen.
"Di Malaysia saja yang UMNO 60% (partai yang berkuasa di parlemen) saja nggak gampang," jelasnya.
(hen/ir)










































