Tambahan modal itu ditujukan sebagai tambahan sumber dana yang sangat dibutuhkan ADB untuk merespons krisis ekonomi global dan memenuhi kebutuhan pembangunan jangka panjang kawasan Asia dan Pasifik.
Dalam pemungutan suara oleh 67 negara anggota ADB untuk meningkatkan modal yang kelima kalinya ditutup pada tanggal 29 April, sebagian besar anggota menyatakan dukungannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peningkatan besar ini merupakan bentuk pemberian kepercayaan yang tinggi dari para pemegang saham kami terhadap apa yang bisa kami capai sebagai lembaga pembangunan yang utama di kawasan ini," kata Presiden ADB Haruhiko Kuroda dalam siaran persnya.
Keputusan tentang peningkatan modal ini dicapai dua hari sebelum ADB memulai Sidang Tahunan yang ke 42 di Bali, Indonesia pada tanggal 2-5 Mei.
Peningkatan modal sebesar 200% ini akan memungkinkan ADB untuk meningkatkan secara besar bantuannya kepada negara-negara yang terpengaruh oleh penurunan ekonomi dunia, membuat ADB mampu memberikan bantuan tambahan sebesar $10 miliar dari sumber dana komersialnya (Ordinary Capital Resources) dalam beberapa tahun ke depan untuk bantuan yang berkaitan dengan krisis.
"Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencegah terjadinya pembalikan hasil dari kerja keras kita dalam pembangunan sosial dan ekonomi dan pengurangan kemiskinan di kawasan ini," demikian dikatakan Presiden Kuroda.
ADB memperkirakan krisis yang terjadi saat ini akan membuat lebih 60 juta penduduk di negara-negara berkembang di Asia terjebak dalam kemiskinan absolut tahun ini, dan mendekati 100 juta penduduk lagi pada tahun 2010.
Peningkatan modal ini juga akan memberikan ADB kemampuan keuangan untuk melaksanakan prioritas pembangunan jangka panjang di kawasan Asia dan Pasifik. Bahkan sebelum terjadinya krisis keuangan global, kebutuan pendanaan di kawasan ini sudah besar. Negara-negara berkembang anggota ADB mengalami kekurangan dana sebesar $53 miliar per tahun untuk bisa mencapai Tujuan Pembangunan Milenium.
Sekitar seperempat dari seluruh penduduk di negara-negara berkembang anggota ADB tidak mendapatkan listrik, sebagian hanya memiliki rasio akses terhadap air bersih kurang dari 20%, dan akses terhadap sanitasi di beberapa negara rendah hanya 8%. Selain itu lebih dari 30% dari penduduk pedesaan di negara-negara berkembang anggota ADB kekurangan jalan-jalan yang bisa digunakan sepanjang tahun.
ADB didirikan pada tahun 1966 dan dimiliki oleh 67 negara anggota dimana 48 diantaranya ada di kawasan Asia. Pada tahun 2008 ADB menyetujui pinjaman sebesar $10,5 miliar, proyek-proyek hibah senilai $811,4 juta dan bantuan teknis senilai $274,5 juta.
(qom/lih)











































