Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani dalam rapat dengan Panitia Anggaran DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (30/4/2009).
"Kondisi perekonomian global dinamis, selain itu kondisi ekonomi dalam negeri juga berubah akibat adanya stimulus fiskal dan sebagainya, oleh karena itu kami akan mengajukan APBN-P," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Pertumbuhan ekonomi 6%
- Inflasi 6%
- SBI 7,5%
- Nilai Tukar Rp 9.400/US$
- Harga Minyak US$ 80 per barel
- Lifting 960 ribu barel/hari
Sementara itu, proyeksi terakhir pemerintah untuk asumsi makro setelah adanya stimulus dan dengan kondisi krisis global yang ternyata parah adalah:
- Pertumbuhan ekonomi 4,5%
- Inflasi 6%
- SBI 7,5%
- Nilai tukar Rp 11.000/US$
- Harga minyak US$ 45 per barel
- Lifting 960 ribu/hari.
Di tempat yang sama, Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis mengatakan perhitungan pemerintah mengenai asumsi makro setelah adanya stimulus fiskal, tidak bisa menjadi pegangan di tengah perubahan perekonomian yang sangat cepat.
"Saya tetap beranggapan, pemerintah harus berpatokan pada pertumbuhan 4,5. Walaupun IMF prediksi lebih rendah 2,5%. Berdasarkan kesepakatan formal tetap pertahankan 4,5%. Kalau merasa tidak sanggup, mungkin berubah di APBN-P," katanya.
Dikatakan Harry pemerintah harus bekerja keras di tengah imbas perekonomian global yang menekan pertumbuhan ekonomi, sehingga target-target asumsi makro dapat tercapai.
"Intinya sampai ada (APBN) perubahan masih harus mencapai target itu, relevan atau tidak, tergantung kinerja pemerintah," tukasnya.
(dnl/qom)











































