"Melihat angka inflasi sampai April yang hanya 0,05%, ini bisa menjadi sinyal baik bagi ekonomi Indonesia, malah bisa menyebabkan angka inflasi 2009 berada di bawah yang diperkirakan pemerintah," jelas Kepala BPS Rusman Heriawan dalam konferensi pers di kantor BPS, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Jumat (1/5/2009).
BPS mencatat deflasi April 2009 sebesar 0,03%. Inflasi tahun kalender dari Januari hingga April 2009 sebesar baru 0,05%, sementara inflasi year on year atau April 2009 terhadap April 2008 mencapai 7,31%. Sementara pemerintah Kamis kemarin baru saja mengajukan APBN perubahan 2009, dengan target inflasi sebesar 6%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika pemerintah bisa menangani dua ancaman inflasi ini, maka angka inflasi 2009 bisa lebih rendah dari yang diperkirakan," tambah Rusman lagi.
Terkait deflasi Maret, Rusman menjelaskan bahwa hal itu disebabkan karena selama 2 bulan terakhir terjadi penurunan harga pada sebagian bahan makanan pokok sebesar 0,31% dan indeks harga konsumen sandang juga menjadi kontributor deflasi 0,12%.
"Harga sandang disebabkan turunnya demand belanja sadang pemilu. Pada Maret lalu belanja sandang cukup tinggi karena ada belanja pemilu," ujarnya.
Sementara sumbangan deflasi terbesar dari komoditas dari emas dan perhiasan yang menyebabkan penguatan rupiah. Deflasi pada komoditas ini sebesar 0,13%.
Kontribusi inflasi terbesar dari minyak goreng yang disebabkan naiknya harga CPO di luar negeri. Kemudian dari gula pasir, rokok dan kontrak rumah. "Keempat faktor inilah yang menyebabkan inflasi," pungkas Rusman.
BPS mencatat dari 66 kota, tercatat 50 kota mengalami deflasi dan 16 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Manado 1,32 persen dengan IHK 115,03 dan terendah terjadi di Surakarta 0,02 persen dengan IHK 109,27. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Palopo 0,99 persen dengan IHK 124,62 dan terendah terjadi di Palangkaraya 0,06 persen dengan IHK 115,50.
Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok kelompok bahan makanan 1,33 persen dan kelompok sandang 1,70 persen.
Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,40 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,12 persen; kelompok kesehatan 0,34 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,05 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,07 persen.
(qom/ir)











































