Demikian disampaikan Kepala BPS Rusman Heriawan dalam keterangan pers di kantor BPS, Jumat (1/5/2009).
Ekspor pada bulan Maret tercatat sebesar US$ 8,54 miliar atau masih di atas impor Maret 2009 yang sebesar US$ 6,53 miliar. Atau berarti ada surplus sebesar US$ 1,99 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertambangan khususnya batubara yang pada bulan Maret volume ekspornya sangat tinggi. Jadi ekspor bulan Maret bukan ditopang industri melainkan pertanian dan pertambangan," katanya.
Ekspor non migas pada Maret sebesar US$ 7,27 miliar atau naik 20,08% dari Februari 2009. Tapi jika dibandingkan Maret 2008 tetap turun turun sebesar 21,31%.
Ekspor selama Januari hingga Maret 2009 tercatat sebesar US$ 22,9 miliar atau turun 32,12% dari triwulan I-2008. Ekspor terbesar disumbangkan bahan mineral sebesar US$ 444,3 juta, CPO sebesar US$ 217 juta, dan bijih tambang sebesar US$ 420 juta.
Sedangkan penurunan terbesar ekspor non migas berasal dari sektor industri yang melorot 31,68% dibandingkan triwulan I-2008.
Impor pada Maret 2009 tercatat sebesar US$ 6,53 miliar atau naik 9,94% dari Februari 2009 yang sebesar US$ 5,94 miliar.
"Kenaikan impor ini tidak setajam kenaikan ekspor. Oleh sebab itu terjadi surplus perdagangan sebesar US$ 1,99 miliar dan ini akan masuk ke cadangan devisa negara," katanya.
Impor pada triwulan I-2009 sebesar US$ 19,07 miliar atau turun 35,85 % dari triwulan I-2008. Impor non migas menyumbang US$ 5,61 miliar atau naik 12,81% dari Februari 2009.
Sedangkan impor non migas triwulan I-2009 sebesar US$ 15,91 miliar, atau turun 30,03% dari triwulan I-2008. Sedangkan impor migas sebesar US$ 3,16 miliar yang berarti turun 54,78% dari triwulan I-2008.
Sementara impor migas Maret US$ 0,92 miliar atau mengalami penurunan 4,87% dari Februari 2009.
(lih/qom)











































