Demikian disampaikan Kepala BPS Rusman Heriawan dalam keterangan pers di kantor BPS, Jakarta, Jumat (1/5/2009).
Untuk sektor wisata, Rusman menyatakan, adanya travel warning terhadap sejumlah negara yang terjangkit flu babi bisa jadi peluang bagi Indonesia untuk merebut wisatawan yang datang ke Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusman juga mengatakan dampak sentimen flu babi terhadap angka statistik inflasi maupun deflasi masih belum bisa diperkirakan karena sentimen tersebut baru muncul dan belum diketahui benar dampaknya ke Indonesia.
"Nanti kita lihat selama bulan Mei nanti apakah sentimen tersebut akan berpengaruh atau tidak, tapi melihat konsumsi daging babi yang jumlah sangat kecil di Indonesia, saya pikir tidak akan berpengaruh terlalu besar," katanya.
Namun Rusman mengatakan, bisa jadi sentimen flu babi akan menyebabkan migrasi pola makan dari etnis tertentu, agama tertentu pada suatu wilayah tertentu. Pihak-pihak tertentu yang biasa mengonsumsi daging babi kemungkinan akan beralih ke komoditas daging lainnya.
"Bisa saja mereka beralih ke daging sapi. Jika terjadi di suatu wilayah yang konsumsi daging babinya tinggi, maka akan memicu penurunan harga babi dan meningkatkan demand daging sapi misalnya. Bisa jadi harga daging sapi mengalami kenaikan dengan adanya sentimen ini yang didukung peningkatan demand, tapi pastinya kita tunggu hasil statistik bulan Mei ini," ujarnya.
(lih/qom)











































