Dengan munculnya krisis ekonomi global, arus modal ke negara berkembang turun dari biasanya mencapai US$ 800 miliar menjadi hanya US$ 170 miliar atau menurun hampir US$ 600 miliar.
Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani dalam seminar "Global Financial Turmoil and Implication For Asia" di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Minggu (3/5/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan terjadinya krisis ekonomi saat ini, enam bulan sejak September 2008, pemerintah Indonesia terus-menerus memberikan confidence kepada para pelaku ekonomi, hal ini dilakukan agar tidak ada spekulasi yang tidak perlu," tuturnya.
Dengan krisis global yang terjadi akibat ambruknya sektor keuangan di AS, Sri Mulyani mengatakan saat ini dunia membutuhkan suatu struktur baru dalam perekonomian global.Contohnya dalam penggunaan mata uang, menurutnya saat ini dalam transaksi perdagangan di Asia masih digunakan mata uang dolar AS sehingga ini menimbulkan tingginya permintaan dolar AS.
"Hal ini menimbulkan risiko pada setiap transaksi, karena tidak bisa digunakan mata uang secara bilateral antara kedua negara yang melakukan transaksi perdagangan," katanya.
Sementara itu, Presiden ADB Haruhiko Kuroda mengatakan di tengah krisis ini, ASEAN harus bisa memulihkan kepercayaan investor untuk dapat kembali berinvestasi.
"Dengan potensi pasar dalam negeri yang besar, ASEAN menarik untuk investasi ditengah melemahnya permintaan eksternal," ujarnya.
Menurut Kuroda, pertumbuhan ekonomi bisa pulih kembali jika ada investasi yang masuk, dan menurutnya selama ini ASEAN sudah cukup baik dalam menstabilkan kondisi makro ekonominya, memperkuat cadangan devisa dan membayar utang-utang jangka pendeknya.
"Bahkan negara-negara ASEAN sudah menjalankan stimulus fiskal yang prudent," ujarnya.
(dnl/dru)











































