"Selain itu OPEC tidak ingin kenaikan harga yang terlalu cepat memperlmbat pemulihan ekonomi dunia," ujar Mantan Gubernur OPEC, Maizar Rahman saat dihubungi wartawan, Senin (4/5/2009).
OPEC terakhir kali memangkas produksi sebesar 2,2 juta barel per hari pada Desember 2008. Pada pertemuan Maret 2009 lalu, OPEC memutuskan untuk mempertahankan produksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maizar menilai meningkatnya kepatuhan negara-negara OPEC terhadap pengurangan produksi minyak karena semua anggota merasakan perlunya perbaikan harga minyak.
"Banyak negara anggota harus menurunkan anggaran mereka," kata Maizar.
Ia menjelaskan sejak pertengahan Februari hingga sekarang harga minyak terus meningkat dari US$ 35 per barel menjadi sekitar US$ 50.
Dari dinamika fluktuasi harga, pasar lebih banyak menunjukkan frekuensi optimisme perbaikan ekonomi dunia. Penurunan harga dipengaruhi oleh informasi permintaan minyak dunia yang melemah dan naiknya stok minyak Amerika.
"Namun walau harga naik turun, kecenderungan menyeluruh adalah terus naiknya harga," paparnya.
Dirjen Migas dalam penjelasannya yang dilansir detikFinance dari situs Ditjen Migas menjelaskan, tim harga minyak Indonesia memperkirakan kepatuhan negara-negara OPEC dalam pengurangan produksi minyak serta kemungkinan pemotongan kembali kuota produksi minyak oleh OPEC pada sidang 28 Mei mendatang di Wina-Austria diprediksi akan terus memperkuat harga minyak pada bulan Mei.
Disamping itu, faktor lain yang turut memperkuat harga minyak adalah pemotongan alokasi ekspor minyak mentah Saudi Arabia yang lebih rendah dari volume kontrak ke Amerika Serikat (AS), Eropa serta Asia dan meningkatnya permintaan gasoline terutama di AS sehubungan mulai datangnya musim panas.
Faktor-faktor lain yang diperkirakan dapat memperlemah harga minyak, antara lain revisi perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia dalam tahun ini oleh OPEC, menurun 0,6 persen menjadi -0,8 persen dibandingkan perkirakan bulan sebelumnya dan revisi permintaan minyak mentah dunia dalam kuartal II 2009 oleh International Energy Agency (IEA), turun 0,9 barel perhari (bph) dibandingkan perkiraan bulan sebelumnya.
Selain itu, terus meningkatnya stok minyak mentah komersial AS, rendahnya pengoperasian kilang-kilang minyak dunia terutama negara-negara OECD akibat rendahnya tingkat margin kilang, tingginya biaya perawatan serta rendahnya akan produk minyak.
Sementara itu, travel warning dari beberapa negara berkaitan dengan merebaknya flu babi diprediksi akanberdampak pada permintaan untuk bahan bakar transportasi sehingga diperkirakan dapat memperlemah harga minyak bulan Mei.
(epi/qom)










































