Demikian disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Negara BUMN M Sadi Didu di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (5/5/2009).
"Itu harus dialokasikan dalam APBN karena kalau tidak cepat diselesaikan akan menggangu arus kas Pertamina," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau laba turun kan mengurangi dividen," katanya.
Sejak tahun 2004 utang Dephan-TNI kepada Pertamina terus meningkat yakni Rp 662 miliar pada 2004, Rp 915 miliar (2005), Rp 2,5 triliun (2006) dan Rp 4,4 triliun pada 2007.
Said mengatakan, utang tersebut terus bertambah seiring denga penggunaan BBM di seluruh kendaraan TNI.
(ang/qom)










































