"PLTGU Tanjung Priok merupakan jantung kelistrikan Jawa Bali khususnya DKI Jakarta. PLTGU ini didesain untuk menghasilkan 740 MW. Diharapkan selesai 31 bulan sehingga bisa beroperasi pada akhir 2011," ujar Direktur Utama PT PLN (Persero) Fahmi Mochtar dalam
Ground Breaking PLTGU Tanjung Priok 740 MW, di Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (6/5/2009).
Fahmi menjelaskan untuk pendanaan pembangunan PLTGU ini berasal dari JBIC. Adapun biaya investasinya yaitu 43,192 miliar Yen, US$ 43,837 juta, 21,67 juta euro dan Rp 505,45 miliar.
Fahmi mengatakan penggunaan gas untuk membangkitkan PLTGU ini diperkirakan akan menghemat US$ 787,5 juta per tahun atau setara dengan Rp 8,5 triliun dibandingkan dengan penggunaan BBM. Perhitungannya menggunakan asumsi harga gas US$ 5 per mmbtu, harga BBM US$ 6 per liter dan kurs Rp 10.750 per US$.
"Secara ekonomi lebih murah dibanding menggunakan BBM sehingga bisa membantu mengurangi biaya produksi PLN. Selain itu lebih bersih dan ramah lingkungan," ungkapnya.
Fahmi menambahkan pasokan gas PLTGU ini diharapkan berasal dari LNG receiving floating terminal yang akan dibangun oleh konsorsium PLN, PT Pertamina (Persero) dan Perusahaan Gas Negara (PGN) di teluk Jakarta.
"Kami berharap LNG receiving floating terminal tersebut bisa segera terwujud sehingga kesediaan gas untuk pembangkit ini bisa dipenuhi," paparnya.
Sementara itu, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro menyambut baik pembangunan PLTGU ini.
"Tambahan 740 MW ini sangat penting agar nantinya bisa memberikan dukungan dalam sistem Jawa Bali," ungkapnya.
(epi/lih)











































