Demikian disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu di Seminar Protokol Manajemen Krisis di Bidakara, Jakarta, Rabu (6/5/2009).
"Kuartal kedua turun, tapi kita punya stimulus di kuartal ini. Jadi timing-nya pas. Kita akan memompa dari stimulus fiskal, ini ada blessing-nya," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Potensinya rawan, pertumbuhan ekonomi dunia direvisi semakin buruk. Sekarang minus 1,3%, perdagangan dunia minus 11%. Kalau di Indonesia akan mengurangi ekspor kita, ke depannya saya belum tahu," katanya.
Meski demikian, hingga kini pemerintah belum mengubah asumsi-asumsi dalam APBNP. Defisit yang digunakan pun masih 2,5% walau penerimaan negara diperkirakan bakal menurun.
Pemerintah sampai sekarang masih fokus pada pengucuran stimulus fiskal yang sudah dialokasikan. Usulan stimulus tahap kedua dari DPR senilai Rp 15 triliun pun belum dibahas sama sekali.
"Tahun 2009 kita memang menurunkan target penerimaa. Karena satu, untuk stimulus. Kedua, untuk antisipasi perlambatan krisis. Kita sudah lihat dari penerimaan pajak, makanya defisit 2,5%. Itu untuk antisipasi sampai sekarang masih gunakan angka itu, nanti di APBNP saya belum tahu," tambahnya.
Berbeda dengan perkiraan kuartal kedua, evaluasi realisasi kuartal pertama justru tidak seburuk dugaan. Dalam kuartal pertama, terjadi dua kali deflasi, yaitu pada Januari dan April 2009.
"Kalau April inflasi memang biasanya rendah. Nanti kita harapkan year on year bisa 5%. Sehingga bisa memberikan ruang bagi pertumbuhan suku bunga, dan itu positif untuk pertumbuhan pasar obligasi dan saham. Karena itu menggairahkan pasar keuangan. Harga komoditi juga turun, itu menyebabkan harga turun. Di sisi lain, demand bisa lemah, tapi kita lihat kuartal I tidaklah seburuk yang diperkirakan. Itu menunjukan jika demand cukup kuat kalau pertumbuhan ekonomi 4%," paparnya.
(dru/lih)










































