Hal itu diungkapkan Anton saat menjawab pertanyaan wartawan seusai stadium general "Pembangunan Pertanian Indonesia Menuju Kedaulatan Pangan" di gedung University Center (UC) Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (7/5/2009).
"Program raskin untuk saat ini memang belum (diganti-red), tapi pemikiran ke arah sana memang sudah," ungkap Anton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal seperti ini yang mulai kita pikirkan. Hanya saja pelaksanaan di lapangan secara teknis memang tak mudah," katanya.
Anton menambahkan, program raskin ada keuntungan dan kerugian atau kekurangannya. Namu untuk daerah-daerah tertentu dengan adanya program Raskin, orang menjadi cenderung memilih beras daripada bahan pangan lain.
"Memang tak mudah untuk mengubah sebuah program, karena semua pendukung-pendukungnya juga harus disiapkan. Kita juga sudah menyiapkan program yang kita anggap lebih baik sehingga pangan lokal bisa berkembang dengan cara
seperti raskin," katanya.
Apakah nama raskin perlu diganti? Anton mengatakan nama Raskin bisa tetap digunakan. Namun untuk daerah tertentu yang mempunyai potensi pangan lokal seperti sagu dan lain-lain bisa digunakan untuk program tersebut.
"Sebaiknya nanti pangan untuk rakyat miskin," pungkas Anton.
(bgs/qom)











































