Hasil penelitian Coldwell Banker Commercial (CBC) yang dikutip Kamis (7/5/2009) menyebutkan, pada kuartal pertama 2009 pasokan baru properti ritel sewa mencapai sebesar 111.850 m2 yang dipasokan dari Plaza Indonesia Extension di CBD dan Emporium Pluit kawasan sekunder dengan total 3,29 juta m2.
Pada periode ini penyerapan mencapai 78.075 m2 atau meningkat 90,71%, maka total ruang ritel terserap 2,92 juta m2. Sedangkan tingkat hunian turun menjadi 88,67%, diantaranya untuk kawasan CBD hanya 87,41%, kawasan sekunder naik 93,95%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan untuk strata ritel (beli jadi milik) tidak ada tambahan pasokan, dengan hanya kapasitas 2,18 juta m2. Penjualan strata ritel meningkat 79,18%, atau sebesar 10.183 m2, maka total penjualan strata ritel mencapai 1,52 juta.
Dari sisi tingkat penyerapan ritel center sebesar 70,65%, untuk tingkat hunian existing sebesar 80,26%, dan untuk proyek yang sedang dalam konstruksi sebesar 42,35%.
Harga jual untuk ritel strata meningkat 0,1% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu menjadi Rp 43,8 juta per m2. Sedangkan harga jual existing strata berkisar Rp 12 juta-sampai Rp 150 juta per m2, sedangkan harga ritel yang masih dalam tahap konstruksi Rp 19 juta sampai Rp 85 juta per m2.
Research and Analyst Asistant Manager Coldwell Banker Commercial (CBC) Makmur Sentosa mengatakan meski dikuartal pertama cenderung kenaikan, dari sisi pasokan dan penjualan/sewa, kondisi properti ritel kedepannya diperkirakan bakal stagnan, sehingga perlu ada terobosan baru bagi pelaku ritel yang menjual barang yang perputarannya cepat (fast moving consumer goods).
"Saat ini para tenant mulai merevisi targetnya, sehingga ada proyek-proyek yang mengalami penundaan untuk pembangunannya," jelas Makmur.
Ia mengharapkan para pengembang properti bidang ritel kedepannya harus membuat pusat ritel dengan skala yang tidak terlalu besar tetapi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan mudah diakses.
Selain sektor properti ritel yang masih naik, penyerapan properti lahan industri pun mengalami kenaikan 27,6 hektar yaitu sebesar 20,5% dibandingkan pada periode yang sama pada tahun lalu. Meskipun diperkirakan pertumbuhan properti kawasan industri diperkirakan akan stagnan karena kondisi ekonomi yang belum stabil ditambah lagi oleh infrastruktur listrik yang belum mencukupi.
"Masalah infrastruktur energi listrik masih menjadi kendala, program 10.000 MW, kalau diteliti lagi pun ternyata tidak cukup memenuhi kebutuhan," ucapnya.
(hen/qom)











































