Survei Kegiatan Dunia Usaha BI yang dilansir detikFinance, Sabtu (9/5/2009), mencatat kegiatan usaha pada triwulan I-2009 masih mengalami kontraksi.
Hal ini tercemin dari saldo bersih tertimbang (SBT) sebesar -7,68%, lebih dalam dari periode sebelumnya (SBT -1,56 %). Pada triwulan I-2009, penggunaan tenaga kerja, kapasitas produksi, dan optimisme responden terhadap situasi bisnis juga menurun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut responden, tingkat pemintaan baik dalam negeri maupun luar negeri masih turun sebagai dampak dari berlanjutnya krisis ekonomi global merupakan penyebab utama kontraksi usaha pada triulan I-2009. Selain itu, faktor-faktor lainnya yang mendorong melemahnya keenam sektor tersebut yaitu pengaruh faktor musiman, memburuknya situasi pasar, tingginya persaingan produk sejenis dan kondisi cuaca khususnya pada sektor pertanian, perternakan, kehutanan dan perikanan.
Sementara itu, tiga sektor yang mengalami ekspansi usaha yakni sektor pertambangan dan penggalian (SBT 1,68 %), sektor keuangan, persewaab dan jasa perusahaan (SBT 0,95 %) dan sektor jasa-jasa (SBT 0,30 %).
Survei itu memperkirakan pada triwulan II-2009, seluruh sektor ekonomi akan mengalami peningkatan usaha dengan sumbangan terbesar dari sektor pertanian, perternakan, kehutanan dan perikanan (SBT 4,9%), diikuti sektor pertambangan & penggalian (SBT 3,4%). Sektor perdagangan, hotel dan restoran yang melemah pada triwulan I-2009, akan mulai mengalami peningkatan (SBT 2,97 %), diikuti sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan (SBT 2,50 %).
"Perkiraan ekspansi usaha yang terjadi di triwulan II-2009 mengindikasikan optimisme responden di tengah terpuruknya perekonomian dunia," kata survei tersebut.
Menurut responden, faktor konsumsi dari dalam negeri masih menjadi harapan untuk kegiatan usaha. Selain itu, faktor musiman memasuki libur sekolah serta situasi pasar yang membaik pasca pengucuran paket stimulus fiskal oleh pemerintah dan pelaksanaan pemilu legislatif yang berjalan dengan lancar merupakan faktor-faktor yang dinilai akan mendorong meningkatnya kegiatan usaha.
Harga jual
Kenaikan harga jual pada triwulan I-2009 (SBT 3,08 %) disebabkan oleh masih meningkatnya biaya bahan baku (material) khususnya pada sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor industri pengolahan. Selain itu, juga disebabkan kenaikan biaya operasional dan meningkatnya harga pembelian barang khususnya pada sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Harga jual pada triwulan II-2009 akan mengalami peningkatan (SBT 10,38 %). Peningkatan harga jual tersebut diperkirakan akan terjadi pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan (SBT 3,8 %), sektor perdagangan, hotel dan restoran ( SBT 2,27%), sektor industri pengolahan (SBT 2,26 %) dan sektor pertambangan dan penggalian (SBT 1,35%). Sementara itu, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan diperkirakan akan mengalami penurunan harga jual (SBT -1,06 %).
Penggunaan tenaga kerja
Pada triwulan I- 2009, penggunaan tenaga kerja mengalami penurunan yang ditunjukan oleh SBT -5, 36 %. Sektor industri pengolahan merupakan sektor yang mengalami penurunan penggunaan tenaga kerja terbesar (SBT -4,07 %) Sementara itu, peningkatan penggunaan tenaga kerja pada triwulan I-2009 terjadi pada sektor jasa (SBT 1,43%), sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan (SBT 0,97%) dan sektor pengangkutan dan komunikasi (SBt 0,02%).
Penggunaan tenaga kerja pada triwulan II-2009 diperkirakan akan mengalami peningkatan (SBT 6,15 %). Peningkatan tenaga kerja terjadi pada seluruh sektor ekonomi kecuali sektor industri pengolahan. Peningkatan terbesar terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian (SBT 2,40 %)
Kapasitas Produksi
Kapasitas produksi rata-rata dari empat sektor ekonomi yang diamati pada triwulan I-2009 sebesar 70,91% atau lebih rendah dibanding triwulan IV-2008. Keempat sektor tersebut adalah sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan (71,62%), sektor pertambangan dan penggalian (68,53%), sektor industri pengolahan (70,44%) dan sektor listrik, gas dan air bersih (74,27%).
Kondisi Keuangan
Kondisi keuangan perusahaan pada triwulan I-2009 masih dalam kondisi baik. Ini tercemin dari nilai Saldo Bersih (SB) sebesar 18,79%, namun kondisi tersebut tidak sebaik triwulan sebelumnya dimana SB 20,86%.
Akses Kredit
Responden mengakui akses kredit ke bank semakin sulit pada triwulan I-2009, sebagaimana ditunjukan SB sebesar -6,74% dibandingkan dengan SB -3,74% pada periode survei sebelumnya. Hal ini disebabkan tingginya suku bunga kredit (34,42% responden), ketersediaan jaminan (19,48% responden), persyaratan kredit yang terlalu rumit (18,83% responden) dan kebijakan bank (18,18% responden)
Situasi Bisnis
Optimisme responden terhadap situasi bisnis selama tiga bulan terakhir mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan I-2009 tercatat situasi bisnis sebesar SB 13,92% atau mengalami penurunan dibandingkan situasi bisnis pada triwulan IV-2008 sebesar SB 18,61%. Namun, responden menyatakan optimismenya terhadap bisnis/usaha pada enam bulan mendatang akan lebih baik.
Perkiraan inflasi
Terkendalinya perkembangan harga secara umum pada awal tahun 2009 telah membangun persepsi pengusaha bahwa inflasi pada tahun 2009 akan lebih terkendali. Sebanyak 44,02 persen responden memperkirakan inflasi pada tahun 2009 bekisar 5-8 %. Perkiranaan inflasi tersebut lebih rendah dibanding dengan inflasi yang terjadi di tahun 2008 sekitar 11,96%.
(epi/ir)










































