Penyebab utamanya adalah turunnya harga beras di pasar internasional dan penguatan kurs rupiah terhadap dollar AS. Dua faktor itu dinilai menjadi alasan hilangnya momentum ekspor beras premium lantaran potensi margin yang bakal diperoleh pelaku swasta pengekspor beras menjadi tipis.
"Memang dari sisi momentum harga itu lewat momentum, karena rupiah sudah menguat dan harga beras internasional turun," kata angota Dewan Pengawas Perum Bulog Kaman Nainggolan saat ditemui di Balai Kartini, Minggu (10/5/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, lanjut dia, langkah mengekspor beras atau tidak mengekspor tidak lah penting, justru yang paling diutamakan adalah bagaimana menjaga ketahanan pasokan beras di dalam negeri. Terlebih lagi jumlah yang direncakan diekspor tidak terlalu besar.
"Apakah kita mementingkan momentum, untuk perusahaan-perusahaan swasta, apakah kita tidak mencoba berpikir pada kepentingan yang lebih besar," ucapnya.
Memang ia mengakui jika dilihat dari kacamata pengusaha swasta, maka momentum harga ekspor beras menjadi penting karena terkait profit yang akan di dapat. Namun ia juga menambahkan pertimbangan-pertimbangan panjang yang selama ini yang terjadi di pemerintah seperti di Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan dapat difahaminya termasuk soal perizinan ekspor.
"Memang saya bisa faham, Bu Mendag, harus itung-itung, sekarang ini masyarakat juga sudah kritis," kilahnya.
(hen/dro)










































