Laba bersih pada 2008 tersebut juga lebih tinggi dari laba bersih tahun 2007 sebesar Rp 117 miliar.
Demikian hal itu dikemukakan oleh Direktur Utama Bio Farma Isa Mansyur di kantor cabang Bio Farma di Gedung Arthaloka, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (11/5/2009).
"Karena krisis ekonomi global banyak buyer kita yang melakukan nego harga," ungkapnya.
Meski begitu, jumlah bahan baku impor perseroan selama ini tidak terlalu banyak sehingga penurunannya tidak terlalu tajam.
Sedangkan mengenai pendapatan perseroan tahun 2009, diproyeksikan sebesar Rp 950 miliar. Sepanjang tahun 2008, perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 850 miliar, lebih tinggi dari tahun 2007 sebesar Rp 745 miliar.
"Kita akan tetap fokus di ekspor untuk mengejar target pendapatan. Kontribusi ekspor ke pendapatan kan 60 persen, 40 persen sisanya domestik," ujarnya.
Ia menambahkan, vaksin yang selama ini diekspor oleh perseroan antara lain polio, campak, hepatitis b, pertusis dan tetanus.
Selain produk jadi, perseroan juga mengekspor bahan baku pembuatan vaksin untuk berbagai macam vaksin ke lebih dari 100 negara di dunia.
"Kita sudah mendapat tiket masuk ke pasar global karena sudah masuk dalam 23 yang dapat pra kualifikasi WHO," ujarnya.
Tahun ini perseroan menganggarkan dana investasi sebesar Rp 250 miliar tahun 2009 untuk meningkatkan kapasitas produksi difteri, pertusis dan tetanus. Seluruh dana tersebut akan diambil dari kas internal perseroan.
(ang/lih)











































