"Non deal road show bulan ini. Untuk menjelaskan mengenai perusahaan kepada investor," kata Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar usai rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5/2009) malam.
Road show ke empat negara itu, menurut Fahmi untuk menjelaskan posisi PLN saat ini. "PLN selama ini melakukan pinjaman jadi kita harus mempertanggungjawabkan pinjaman ini kepada investor," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu pencapaian kinerja PLN triwulan I-2009 membukukan pendapatan pada triwulan I-2009 sekitar Rp 2,3 triliun yang meningkat dari periode yang sama tahun lalu Rp 19 triliun.
Laba bersih triwulan I-2009 menurut Fahmi kemungkinan masih loss tapi total akhir tahun diperkirakan plus Rp 1 triliun lebih.
Untuk Ebitda 2008 PLN sudah positif sekitar Rp 3,6 triliun, dan ditargetkan pada 2009 secara total mencapai Rp 10 triliun, sedangkan rata-rata triwulan sekitar Rp 2,5 triliun diharapkan bisa tercapai.
Pada triwulan I-2009 PLN juga bisa melakukan penghematan Rp 3,7 triliun dari target penggunaan BBM 2,8 juta ton. "Kita bisa menekan hanya 2 juta ton," ujar Fahmi.
Kinerja operasional dari pembangkit juga sudah semakin membaik. Ukurannya antara lain ketersedian pembangkit untuk bisa beroperasi jauh lebih baik.
"Kemudian loss kita turun menjadi 10,22%. Pada akhir tahun diharapkan bisa menjadi 9,9% dari sebelumnya 10,65%," katanya.
Fahmi menjelaskan kenaikan pendapatan di triwulan I-2009, disebabkan jumlah pelanggan meningkat meski harga tetap.
"Kemudian kita melakukan B to B (business to business) pada layanan tertentu antara lain kerjasama dengan sejumlah operator telekomunikasi dengan tarif khusus, dengan layanan khusus juga. Seperti rekeningnya dilakukan terpusat kemudian padam tidak boleh lebih dari sekian lama, kalau dia terganggu," jelas Fahmi.
Selain itu kata Fahmi, terjadi juga efisiensi BBM karena struktur biaya terbesar ada BBM yang harus menjadi prioritas PLN. Hampir 50% struktur biaya pada BBM dari total biaya.
Lindung Nilai
Fahmi juga menjelaskan, PLN terus melakukan hedging (lindung nilai) karena PLN banyak menggunakan valas. Namun Fahmi mengaku belum menentukan banknya.
"Yah (bank) dalam lah, (prosentasenya) 50:50. Ini pross pembelajaran juga buat PLN," tukasnya.
(ir/ir)











































