Â
Menurut Direktur Eksekutif Refor-Miner Institute, Pri Agung Rakhmanto, belum dipilihnya partner oleh Pertamina disebabkan BUMN Migas terbesar ini masih menunggu terbentuknya pemerintahan yang baru pada Oktober mendatang.
Â
"Jadi ini bukan karena Pertamina-nya yang lamban," ujar Pri Agung dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Senin (18/5/2009).
Â
Pri Agung menyatakan untuk masalah Natuna ini, Pertamina memang hampir tidak mungkin menentukan partner sendiri tanpa intervensi pemerintah. Meskipun secara formal Pertamina telah ditunjuk untuk melakukan itu sendiri.
"Tapi dalam praktik yang sebenarnya rasanya tidak seperti itu," ungkapnya.
Â
Pri Agung menilai masalah Natuna ini masalah besar, sangat strategis baik secara ekonomi maupun politik,nasional dan internasional.
"Hampir tidak mungkin pemerintah tidak campur tangan," jelasnya.
Â
Untuk mengelola lapangan sebesar Natuna, lanjut Pri Agung, partner ideal yang harus dipilih Pertamina tentunya perusahaan yang punya kemampuan teknologi dan finansial yang memadai serta tidak mendikte Pertamina untuk ikuti sesuai kepentingan mereka.
Â
"Namun pada kenyataannya, nanti menurut saya yang akan menjadi partner adalah perusahaan dari negara yang punya pengaruh kuat ke pemerintahan kita yang baru nanti," tandas Pri Agung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(epi/ir)










































