Demikian disampaikan Jubir Kepresidenan Dino Patti Djalal tentang pertemuan Presiden SBY dengan Emir Qatar Sheikh Hamad Bin Khalifa Al Thani di Istana Merdeka.
Dalam perusahaan patungan ini Indonesia berkontribusi 15% dan sisanya 85% oleh Qatar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Finalisasi tersebut, imbuhnya, tinggal membenahi hal-hal bersifat teknis dan legal. Investasi ini menurut Dino salah satunya diarahkan untuk pembiayaan proyek BUMN.
"Seperti proyek elektrifikasi 10.000 MW di daerah pedesaan. Atau nanti akan ada ide-ide yang timbul dari kedua pihak," jelasnya.
Dino juga menjelaskan penandatanganan nota kesepahaman antara kedua negara yang dilakukan masing-masing Menteri Luar Negeri (Menlu) usai pertemuan bilateral hari ini.
MoU itu mengenai kerjasama ekonomi dan teknis yang berkaitan dengan bidang perdagangan, industri, energim, pertanian, peternakan, sumber daya alam lain, teknologi informasi, transportasi dan lain-lain.
"Ini juga salah satu cara Indonesia mencari pasar-pasar baru dan semacam 'propaganda'. Karena semacam model, kalau ini berhasil investor lain dari Arab akan mengikuti," jelasnya.
Dia menjelaskan selama ini hubungan kerjasama perdagangan dan investasi Qatar-RI terus meningkat. Pada tahun 2008 volume dan investasi kedua negara meningkat 85% dibanding tahun 2007.
RI selama ini mengekspor kertas, stationary, kayu dan garmen ke Qatar. Sedangkan Qatar mengekspor gas ke RI.
"Presiden juga berterima kasih atas investasi Qatar melalui Qtel di Indosat. Emir Qatar tadi juga memuji Indonesia adalah salah satu negara yang pertumbuhannya tinggi di Asia," urai dia.
(nwk/lih)











































