Demikian disampaikan Megawati dan Prabowo di sela-sela Dialog Kadin dan Capres di Hotel Sangri-la, Jakarta, Jumat (22/5/2009).
"Saya tadi bicara sama Mas Bowo (Prabowo Subianto). Mas Bowo bilang dua digit saja. Kerja kita kan hanya 5 tahun, dan itu pendek. Kita tidak akan sebut-sebut target, menurut kami kalau semua bisa dilaksanakan, tumbuh dua digit itu bukan hal yang mustahil," kata Megawati dalam keterangan pers usai dialog tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yakin, yakin, yakin" tegas Prabowo mengulang-ulang.
Kapan pertumbuhan sebesar itu bisa tercapai? "Di tahun keempat," tambah Prabowo.
Namun Mega menegaskan, targetnya itu tetap akan mempertimbangkan perkembangan kondisi ke depan.
"Tapi harus terus dilihat, misalnya 4 bulan ini apa sama dengan nanti. Banyak hal yang perlu dilihat lagi," katanya.
Baik Megawati dan Prabowo, keduanya sepakat bahwa pemerintahan selama ini belum optimal mengelola perekonomian.
"Banyak hal yang tidak terbuka dikatakan. Mungkin itu akibat karena ingin terlalu populer. Padahal kalau ada tambahan pengangguran dikatakan saja. Di Singapura saya setuju pemerintah mengatakan kepada rakyat bahwa sedang krisis, bahwa pertumbuhan minus," kata Megawati.
Prabowo pun menjelaskan hal yang senada. Baginya keuangan negara selama ini banyak yang bocor.
"Kita harus segera mengembalikan kebocoran kekayaan negara. Sistem yang sekarang itu salah, karena membayar utang dengan utang. Utang tahun lalu dibayar dengan utang sekarang," kata Prabowo.
Lalu bagaimana dengan maraknya privatisasi pada masa pemerintahan Megawati?
"Masalah privatisasi saya tidak mengelak, tapi itu sudah berjalan sebelum masa pemerintahan saya. Saya presiden yang masa pemerintahannya singkat," tungkas Megawati.
Belakangan Megawati juga dikenal kritis pada program Bantuan Langsung Tunai. Ia pun menjelaskan, dirinya bukan menolak BLT, hanya tak setuju caranya.
"Saya bukannya tidak setuju BLT, yang saya tidak setuju caranya. Karena BLT sudah
diputuskan di APBN," katanya.
(lih/qom)











































