Waspadai Lonjakan Harga Minyak Pasca Krisis

Waspadai Lonjakan Harga Minyak Pasca Krisis

- detikFinance
Senin, 25 Mei 2009 06:47 WIB
Waspadai Lonjakan Harga Minyak Pasca Krisis
Roma - Krisis telah menyebabkan investasi pada sejumlah proyek-proyek minyak terhambat. Dan begitu krisis usai dan permintaan normal, maka kilang-kilang minyak tak lagi sanggup untuk mencukupi permintaan.

Apa yang terjadi? Tentu saja lonjakan harga minyak mentah dunia. Masalah inilah yang menjadi fokus perhatian para menteri energi negara-negara maju yang tergabung dalam G8.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Roma, Italia, para menteri energi G8 menyatakan bahwa harga minyak dapat melonjak lagi ketika krisis ekonomi global mereda dan permintaan kembali normal. Mereka pun menggarisbawahi turunnya investasi pada sejumlah proyek perminyakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Investasi di proyek-proyek energi baru dan teknologi baru kini tertunda atau dibatalkan karena ketidakpastian di pasar finansial dan berkurangnya permintaan," ujar menteri pengembangan ekonomi Italia menjelang pertemuan G8 seperti dikutip dari AFP, Senin (25/5/2009).

"Ketika krisis usai, risiko tidak cukupnya suplai energi masih ada dan hal itu akan menyebabkan harga minyak tidak stabil dan tinggi," tambahnya.

Akibat krisis ekonomi, permintaan minyak dunia turun tajam yang diikuti dengan merosotnya harga. Jika harga sempat mengamuk hingga US$ 147,50 per barel pada Juli 2008, maka selanjutnya harga terus merosot mencapai titik terendahnya di US$ 32,40 per barel pada Desember. Namun dalam sebulan terakhir, harga sudah membaik dan pada pekan lalu sudah bercokol lagi di level US$ 60 per barel.

Investasi proyek-proyek yang berhubungan dengan perminyakan pun ikut terpukul selama krisis. International Energy Agency (IEA) memperkirakan eksplorasi dan produksi migas bahal turun hingga 21% dibandingkan tahun 2008.

"Da beberapa keprihatinan ketika permintaan kembali normal, kita mungkin akan menghadapi masalah suplai dalam jangka pendek. Investasi di sektor hulu sangat sangat penting untuk mencegah kekurangan suplai itu," ujar Direktur Eksekutif IEA, Nobuo Tanaka.

Italia kini tercatat memimpin G8, yang beranggotakan juga Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Jepang, Rusia dan AS. Sebanyak 23 negara juga diundang dalam pertemuan tersebut, termasuk 15 negara berkembang dan penghasil minyak yang mencakup 80% dari suplai dan permintaan minyak dunia.
(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads