Menurut pengamat perminyakan Kurtubi, penguatan nilai tukar rupiah membantu meredam dampak kenaikan harga minyak akhir-akhir ini.
"Rupiah yang menguat mendorong biaya pokok BBM lebih murah karena untuk impor minyak mentah dan BBM dari luar membutuhkan rupiah yang lebih sedikit," katanya ketika dihubungi detikFinance, Senin (25/5/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang pemerintah masih mensubsidi Rp 400 per liter. Tapi sampai akhir tahun subsidinya tidak mencapai Rp 50 triliun, jadi tidak memberatkan APBN. Apalagi sebelumnya pemerintah juga sudah mengantongi kelebihan subsidi BBM pada sejak Desember, Januari," tambahnya.
Jika mempertimbangkan kelebihan subsidi yang sebelumnya diperoleh pemerintah, Kurtubi bahkan memperkirakan APBN 2009 masih bisa bertahan meski harga minyak terus naik sampai US$ 70 per barel.
"Jika harga minyak US$ 70 per barel dan rupiahnya seperti sekarang, harga keekonomian BBM sekitar Rp 5.900 per barel. Memang akan butuh dana tambahan, tapi itu tidak sebanding dengan dampaknya. Dengan harga BBM yang lebih murah, daya beli masyarakat bisa dipertahankan," katanya.
Harga BBM yang murah memang bisa menjaga kemampuan daya beli masyarakat. Daya konsumsi masyarakat inilah yang kemudian menjadi salah satu penopang ekonomi Indonesia menghadapi krisis.
(lih/qom)











































