Chatib Basri: Kwik Tak Bisa Bedakan Neoliberal dan Neozep

Chatib Basri: Kwik Tak Bisa Bedakan Neoliberal dan Neozep

- detikFinance
Selasa, 26 Mei 2009 11:29 WIB
Chatib Basri: Kwik Tak Bisa Bedakan Neoliberal dan Neozep
Jakarta - Tantangan mantan Menko Ekuin zaman Megawati, Kwik Kian Gie untuk berdebat tentang neoliberalisme direspon oleh pihak Boediono. Namun bukannya menjawab atau menolak tantangan, ekonom pendukung Boediono justru menilai Kwik Kian Gie tidak bisa membedakan Neoliberalisme dan Neozep (obat flu).

Demikian disampaikan ekonom pendukung Boediono Chatib Basri dalam acara 'Boedionomics: Antara Neolib dan Ekonomi Kerakyatan' di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (26/5/2009).

Chatib bahkan beranggapan tantangan Kwik Kian Gie itu hanya menunjukkan kalau Kwik tidak mengerti neoliberalisme.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seperti Pak Kwik kemarin, dia hanya pusing. Tidak bisa bedakan antara Neozep dan neoliberalisme. Ia juga bilang mau berdebat berhari-hari dengan Boediono tentang neoliberalisme, itu karena dia nggak ngerti saja. Kalau saya berdebat tentang neoliberalisme bisa cuma 5 menit saja," katanya.

Chatib juga menegaskan, aksi-aksi privatisasi BUMN tidak bisa menjadi indikator paham neoliberalisme. Tapi jika ada pihak yang bersikukuh privatisasi merupakan simbol neoliberalisme, maka seharusnya menengok kebijakan ekonomi Indonesia sejak 2001 atau pada pemerintahan Megawati.

"Mengenai privatisasi, itu dari zaman Megawati juga ada, sejak 2001. Tapi tidak serta merta neoliberalisme. Kita lihat kebijakan ekonomi dari 2001 sampai sekarang tidak berubah drastis, makanya orang tidak mengerti apa itu neoliberalisme," katanya.

Chatib juga menegaskan, jika dilihat kondisi saat ini, persentase aset terbesar di Indonesia masih dipegang BUMN. Bank terbesar di Indonesia pun Bank Mandiri. (lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads