Demikian disampaikan ekonom pendukung Boediono Chatib Basri dalam acara 'Boedionomics: Antara Neolib dan Ekonomi Kerakyatan' di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (26/5/2009).
Chatib bahkan beranggapan tantangan Kwik Kian Gie itu hanya menunjukkan kalau Kwik tidak mengerti neoliberalisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chatib juga menegaskan, aksi-aksi privatisasi BUMN tidak bisa menjadi indikator paham neoliberalisme. Tapi jika ada pihak yang bersikukuh privatisasi merupakan simbol neoliberalisme, maka seharusnya menengok kebijakan ekonomi Indonesia sejak 2001 atau pada pemerintahan Megawati.
"Mengenai privatisasi, itu dari zaman Megawati juga ada, sejak 2001. Tapi tidak serta merta neoliberalisme. Kita lihat kebijakan ekonomi dari 2001 sampai sekarang tidak berubah drastis, makanya orang tidak mengerti apa itu neoliberalisme," katanya.
Chatib juga menegaskan, jika dilihat kondisi saat ini, persentase aset terbesar di Indonesia masih dipegang BUMN. Bank terbesar di Indonesia pun Bank Mandiri. (lih/qom)











































