Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT PLN (Persero) Fahmi Mochtar dalam Press Gathering PLN, di Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (30/5/2009).
"Ini masuk akal tapi kurang efisien, bahkan ada yang tidak percaya sama Tuhan. Hari sudah siang tapi lampu taman masih nyala, padahal sudah ada matahari" ujar Fahmi disambut tawa peserta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi per harinya hanya Rp 2.000 itu bisa dipakai nonton TV dan menyetrika," jelas Fahmi.
Sementara sisi permintaan dengan pertumbuhan aset PLN sama sekali tidak berimbang. Menurut Fahmi, pertumbuhan permintaan listrik di Indonesia mencapai 6,8 persen per tahun. Namun pertumbuhan aset PLN tumbuh 3 persen per tahun.
"Demand tinggi, suplai lemah.Jadi suplai dan demand tidak seimbang. Oleh karena itu dimana-mana ada keluhan listrik padam," ujar Fahmi.
Terkait defisit listrik, Fahmi mengakui bahwa hingga tahun 2008 masih ada 14 lokasi yang mengalami defisit listrik.
"Tahun ini akan kita selesaikan semua," jelasnya.
Ia menambahkan saat ini baru 65 persen penduduk Indonesia yang baru menikmati listrik. "35 persen di kota dan desa, paling banyak didesa dan umumnya jauh dari jangkauan," jelasnya.
Pada 2018, lanjut Fahmi, PLN menargetkan rasio elektrifikasi bisa mencapai 95 persen. Untuk memenuhi kebutuhan, PLN akan bangun pembangkit dengan menggandeng swasta. Namun untuk sampai 2010, PLN kemungkinan masih akan mendominasi.
"Kita kasih peluangan kepada swasta, ini juga terkait kemamapuan PLN untuk melakukan investasi ada batasnya. Sehingga suasana kondusif perlu dilakukan," ungkapnya.
Adapun kebutuhan investasi PLN dan IPP mulai tahun 2008 hingga 2018 sekitar US$ 83,69 Miliar terdiri dari US$ 56,57 miliar, penyaluran US$ 14,10 Miliar dan distribusi US$ 12,38 miliar.
(epi/qom)










































