Demikian ditegaskan Wapres Jusuf Kalla usai rapat gas dengan Dirjen Migas Evita Legowo dan Dirut Pertamina Karen Agustiawan di Istana Wapres, Jakarta, Rabu (3/6/2009).
"Kita putuskan beberapa hal program yang dulu sudah direncanakan yaitu membangun receiving terminal di Medan dan Jakarta harus dibangun dalam waktu setahun supaya industri ini berjalan segera. Pertamina sanggup setahun bangun receiving terminal," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agar bisa tetap menjaga pasokan gas dalam negeri, Indonesia juga tidak akan menambah ekspor gas baru. Selain kontrak yang sudah berjalan, seluruh pasokan gas selanjutnya akan dialokasikan untuk dalam negeri.
"Jadi gas dari tempat katakanlah gas dari Bontang, Tangguh train 3, dan nanti Senoro masuk ke Indonesia, dalam negeri. Itu keputusannya, jadi kita harus membangun instalasi cepat dalam setahun, receiving terminal dan mengarahkan semua gas itu yang dibutuhkan dalam negeri untuk mendahulukan kepentingan nasional," tambahnya.
Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan gas dalam negeri yang terus meningkat, pemerintah menyiapkan 3 langkah utama.
Pertama, Indonesia mengutamakan kebutuhan gas dalam negeri. Jika ada sisa baru akan diekspor. Kedua, Indonesia harus mempergunakan kemampuan industri dalam negeri untuk membangun seluruh instalasi gas dan juga perminyakan yang kita mampu. Ketiga, Indonesia harus mencari harga yang efisien.
(lih/qom)










































