Hal ini dikatakan oleh Dirjen Perbendaharaan Herry Purnomo ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (5/6/2009).
Harry menjelaskan, sampai 29 Mei 2009, total penyerapan subsidi sebesar Rp 24,045 triliun atau 14,42% dari APBN. Dari total tersebut, penyerapan subsidi energi mencapai Rp 19,158 triliun atau 18,65% dari APBN. Subsidi BBM Pertamina Rp 5,802 triliun atau 10,07% dari APBN, dan subsidi listrik
Harry mengatakan mulai cairnya subsidi BBM ini bukan karena harga minyak dunia yang mulai naik, tapi memang normal.
"Saya tidak tahu prosesnya. Itu dari Ditjen Anggaran (DJA). Biasanya kalau masuk hari ini, proses di DJA lama, harus dihitung dulu, lftingnya berapa dan sebagainya, ada hitung-hitungannya," tuturnya.
Tahun ini memang nilai subsidi energi alokasinya lebih kecil dibanding tahun lalu karena lonjakan harga minyak dunia yang besar.
"Tahun kemarin Rp 36 triliun, tahun sekarang Rp 19 triliun untuk subsidi energi. Sekarang yang banyak PLN, tahun lalu Pertamina. Tapi ini belum mencerminkan kondisi pemakaian subsidi yang sebenarnya karena sampai akhir tahun nanti pencairan juga tidak mencerminkan pemakaian subsidi yang sebenarnya," pungkasnya.
(dnl/qom)











































