Berdasarkan hasil pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2009 yang mencapai 4,4%, konsumsi domestik masih menjadi penopang. Konsumsi bisa menutup investasi dan ekspor yang turun tajam akibat krisis ekonomi global.
"Namun konsumsi dapat mengimbangi cukup bagus. Ini masih bisa berjalan dan kontinu sampai kuartal II dan III. Secara logika, kalau konsumsi dalam negeri meningkat pada level sekitar 5%, dengan sendirinya proyeksi 2,5% yang mereka lakukan menjadi tidak sesuai sehingga mereka melakukan revisi menjadi diantara 3-4 persen," urai Sri Mulyani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah tetap memasang target pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena menurut Sri Mulyani dari sisi konsumsi dan investasi tidak akan mengalami kontraksi yang tidak terlalu besar apalagi juga didukung kebijakan suku bunga yang semakin longgar.
Ia menjelaskan, kontribusi konsumsi masih sangat tinggi yakni pertumbuhannya mencapai 5,8%, investasi 3,5% pada kuartal I. Untuk kuartal II, Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan investasi akan tetap tinggi antara 5-7% sementara konsumsi 4-4,5%.
"Konsumsi tidak lebih tinggi, konsumsi akan consolidated, investasi yang mungkin akan lebih tetap karena faktor perbankan dan capital inflow Indonesia cukup kuat," jelasnya.
Lebih lanjut Sri Mulyani menjelaskan bahwa sebenarnya faktor domestik dan eksternal memang dibutuhkan untuk membangun fundamental ekonomi yang kuat. Namun ketika faktor eksternal turun tajam, maka faktor domestiklah yang akan menjadi penopangnya.
"Dengan Indonesia menjadi negara ketiga tertinggi pertumbuhannya di Asia, ini menggambarkan bahwa domestik kita memiliki kemampuan untuk mengimbangi atau mengurangi dampak negatif itu. Artinya, fundamental ekonominya relatif cukup kuat," ujarnya.
Namun demikian, pemerintah harus tetap mengimbangi pertumbuhan ekonomi dengan investasi agar bisa tetap mencapai target yang diinginkan. Dan dengan posisi pertumbuhan ekonomi yang terkuat ketiga di Asia, Indonesia kini semakin atraktif bagi investor.
"Kita dengar iklim investasi Indonesia sekarang dengan menjadi negara ketiga, pertumbuhan ekonominya paling tinggi pada saat ekonomi dunia jatuh, maka Indonesia memposisikan diri menjadi negara yang atraktif dari sisi investasi," urainya.
(qom/ir)











































