Peserta Pameran di China Diminta Waspadai Uang Palsu

Peserta Pameran di China Diminta Waspadai Uang Palsu

- detikFinance
Selasa, 09 Jun 2009 12:21 WIB
Peserta Pameran di China Diminta Waspadai Uang Palsu
Jakarta - Pengusaha Indonesia diminta waspada terhadap maraknya uang palsu yang beredar di pameran internasional seperti China ASEAN Expo (CAEXPO) 2009. Beredarnya uang palsu ini kerap terjadi pada CAEXPO tahun lalu.
 
"Para peserta harus hati-hati karena ada pembeli yang menggunakan uang palsu. Tahun lalu, saya menerima beberapa lembar uang Renimbi palsu. Waktu itu pakai detektor di China itu lolos, tapi pas mau ditukarkan di Money Changer di Jakarta baru ketahuan," kata Ramly Usman, pengusaha yang sudah beberapa kali mengikuti CAEXPO.
 
Hal tersebut disampaikan Usman dalam acara promotion conference The 6th China-Asean Expo, di hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (9/6/2009).
 
Tidak hanya Usman, pengusaha furniture Yasma Asahi juga mengalami hal yang sama. "Tahun kemarin saya ikut. Saya dapat 4 lembar satu lembar 100 Remimbi. Kalau dikurs waktu itu Rp 600.000. Memang nilainya tidak besar tapi kalau setiap orang banyak dapat uang palsu, coba saja dihitung berapa kerugian yang harus ditanggung peserta," jelas Yasma.
 
Nuryati Lagoda dari Badan Pengembangan Ekspor Nasional  (BPEN) mengakui memang masalah uang palsu juga banyak dialami oleh peserta CAEXPO sebelumnya.

"Kami meminta kepada panitia supaya menyiapkan alat pendeteksi agar perserta tidak dirugikan," ungkapnya.
 
Perwakilan panitia penyelenggara CAEXPO dari China, Mr Wang menyatakan kontrol terhadap peredaraan uang palsu setiap tahunnya selalu ditingkatkan. Pihaknya juga telah menangkap banyak mafia uang palsu. 

"Kami akan siapkan mesin pengecekan uang palsu. Jika Anda merasa kurang yakin dengan uang yang Anda dapatkan, Anda bisa ketempat tertentu untuk mengecek apakah uang itu palsu atau tidak," jelas Mr Wang.
 
Selain masalah uang palsu, faktor bahasa juga menjadi kendala bagi para peserta Indonesia.
 
"Kami meminta agar diberikan penerjemah gratis. Bagaimana mau bertransaksi kalau bahasanya saja tidak mengerti," ungkap anggota asosiasi pengusaha Cina dan Indonesia Paulus Jauhari. 
 
Menanggapi hal tersebut, Nuryati menyatakan pihaknya sudah meminta pihak penyelenggara untuk menyediakan fasilitas penerjemah. "Kami sudah meminta kepada penyelenggara untuk untuk menyediakannya namun kalau tidak ada akan ada anggaran untuk itu," ujar Nuryati.
 
Sementara itu, peserta lainnya juga mempertanyakan soal biaya-biaya yang harus mereka keluarkan saat mengikuti acara yang akan berlangsung pada 20-24 Oktober 2009 tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apakah ada biaya tambahan lain? Seperti biaya hidup, stand dan penginapan, biaya tiket dan akomodasi bagaimana," tanya salah seorang peserta.Nuryati menyatakan pihaknya akan melakukan pembicaraan lagi dengan pihak penyelenggara. "Akan dibicarakan lagi, kami hanya memfasilitasi stand dan akomodasi," jelasnya.
(epi/lih)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads