"Minggu depan PLN akan dipanggil," ujar anggota Komisi VII DPR, Tjatur Sapto Edy saat dihubungi detikFinance, Selasa (8/6/2009).
Tjatur menilai, tindakan yang dilakukan PLN bukan untuk mencari keuntungan, namun hal tersebut dilakukan untuk menutupi biaya operasional PLN.
PLN membutuhkan uang sebab dananya banyak terpakai untuk menalangi pembangunan proyek 10 ribu MW yang seret pendanaannya.
"Mereka lakukan itu agar bisa bertahan. Sebab biaya operasional yang seharusnya digunakan untuk capex digunakan untuk menalangi pembiayaan 10 ribu MW sehingga mereka kesulitan pendanaan," jelas Tjatur.
Tjatur menilai justru tindakan PLN menaikkan biaya pemasangan baru tersebut akan membuat usaha PLN untuk mencapai rasio elektrifikasi melalui pembangunan pembangkit listrik akan sia-sia.
"Percuma saja bangun pembangkit kalau ternyata masyarakat yang mau menyambung tidak bisa karena mahal. Pembangunan pembangkitkan harus diimbangi dengan pertumbuhan konsumsi," ujarnya.
Menurut Tjatur, seharusnya PLN melakukan konsultasi dengan pemerintah dan DPR sebelum menaikkan tarif tersebut.
"Kalau mereka kesulitan pendanaan kan masih ada solusi lainnya misalnya untuk subsidi bagi PLN bisa ditambah Rp 1-2 Triliun yang bisa digunakan untuk mensubsidi biaya pemasangan baru. Selain itu, margin bagi PLN yang tadinya 1 persen bisa dinaikan menjadi 2 -2,5 persen yang penting pelanggan terus terlayani," papar Tjatur.
(epi/ir)










































