"Jadi sampai Maret 2009 aset Pertamina tumbuh dari akhir tahun. Namun angka ini masih diaudit," ujar Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero), Ferederick Siahaan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII, di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (10/6/2009).
Menurut Ferederick, peningkatan aset selama triwulan pertama 2009 ini lebih banyak disebabkan peningkatan inventori. Ini dilakukan sesuai kebijakan pemerintah untuk menjaga ketahanan suplai.
"Pertamina menambah cadangan inventori baik minyak mentah maupun produk dari level 22 hari ke level rata-rata selama triwulan pertama 27 hari," kata Ferederick.
Sementara itu Ferederick menyebutkan dari sisi perolehan laba untuk triwulan I 2009 Pertamina sampai Maret mencatat laba Rp 3,6 triliun. Jumlah ini turun dari laba setahun 2008 yang sebesar Rp 30,1 triliun.
"Untuk rata-rata ICP sepanjang 2008 kurang lebih US$ 97 per barel. Sedangkan rata-rata ICP US$ 40 per barel untuk Maret 2009. Jadi faktor harga minyak berpengaruh pada pencapaian laba. Walaupun 65 persen laba masih disumbangkan hulu," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Ferederick juga menyatakan dengan menggunakan alpha 8 persen saat harga minyak US$ 45 per barel maka akan menyulitkan Pertamina untuk peroleh laba dan memperbaiki infrastrukturnya.
"Dengan alpha 8 persen di harga ICP US$ 45 maka Pertamina rugi Rp 6-7 triliun. Namun menjelang harga minyak yang naik, tentunya di triwulan II akan lebih baik. Proyeksi kami kalau harga minyak rata-rata mencapai US$ 45 per barel dan alpha 8 persen, masa laba Pertamina hanya mencapai 12 triliun," ungkap Ferederick.
(epi/lih)










































