Petani Tebu Minta Dana Penyangga Rp 2 Triliun

Petani Tebu Minta Dana Penyangga Rp 2 Triliun

- detikFinance
Kamis, 11 Jun 2009 12:10 WIB
Petani Tebu Minta Dana Penyangga Rp 2 Triliun
Jakarta - Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia mengusulkan adanya dana penyangga sebesar Rp 1,5- Rp 2 triliun.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia, Abdul Wachid, dana penyangga ini diperlukan untuk melindungi petani dari dampak fluktuasi harga yang cenderung kurang menguntungkan akibat perubahaan harga gula dunia.

"Ke depan saya harapkan ada dana penyangga untuk gula petani," Wachid dalam simposium gula di Gedung Kadin, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (11/6/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Wachid, besarnya dana penyangga tersebut diberikan pemerintah yaitu sekitar Rp 1,5-2 triliun. "Kalau untuk subsidi BBM Rp 40 triliun itu saja mampu, kita minta Rp 1,5-2 triliun untuk dana penyangga sehingga kita bisa stabilkan harga," jelas Wachid.

Wachid mengakui, fluktuasi harga gula dunia tidak menguntungkan para petani gula. Wachid mencontohkan pada tahun 2008, pada saat giling petani menjerit karena harga Rp 5.000 saat tidak panen harga gula naik ke level Rp 7.000 di akhir Desember-Januari petani tidak punya apa-apa.

"Dengan adanya dana penyangga diharapkan bisa selamatkan harga gula sehingga kosumen tidak teriak dan petani tidak menjerit," tandasnya.

Selain itu Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia juga meminta pengendalian impor ketat. Asosiasi menilai ada tumpang tindih impor raw sugar dan gula rafinasi.

"Saya mohon agar tidak ada tumpang tindih. Kalau sudah impor raw sugar untuk rafinasi tidak usah impor gula rafinasi juga," ujar Wachid.

Menurut Wachid, impor gula rafinasi dilakukan karena kualitasnya kalah dibandingkan dengan gula rafinasi impor. "Kadang-kadang industri mamin impor bilang gula lokal tidak kepakai. Namun kenyataannnya pada 2009, saay harga gula dunia naik, industri mamin juga pakai gula lokal sehingga harga gula  lokal naik," jelas Wachid.

Wachid mengkhawatirkan akan ada banjir gula rafinasi karena adanya impor gula ditambah adanya peningkatan jumlah pabrik gula rafinasi. "Sekarang ada 5 pabrik gula, ini akan bertambah 8-9 pabrik kalau terus seperti ini maka gula rafinasi lokal akan over supplai di pasar," tandasnya.

(epi/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads