Ekspor BBK Berpeluang Tembus US$ 10 Miliar

Ekspor BBK Berpeluang Tembus US$ 10 Miliar

- detikFinance
Kamis, 11 Jun 2009 13:33 WIB
Ekspor BBK Berpeluang Tembus US$ 10 Miliar
Jakarta - Departemen Perdagangan memperkirakan nilai ekspor kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone/FTZ) Batam Bintan Karimun (BBK) pada tahun 2009 bisa menembus US$ 10 miliar.
Β 
Kalkulasi ini mempertimbangkan, penambahan dua wilayah baru yaitu Bintan dan Karimun, juga berdasarkan asumsi peningkatan dua kali lipat nilai ekspor tahun 2005 wilayah Batam sebesar US$ 6,1 miliar.
Β 
Hal ini disampaikan oleh Direktur Kerjasama Bilateral 1 Depdag Harmen Sembiring dalam acara seminar FTA Batam Bintan dan Karimun, di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (11/6/2009).
Β 
"Ada Key Performance Index , yang dibuat salah satunya meningkatkan ekspor bisa duaΒ  kali lipat dari tahun 2005 US$ 6,1 miliar, jadi seharusnya (2009) bisa US$ 10 miliar," katanya.
Β 
Berdasarkan data tahun 2008 lalu nilai ekspor Batam mencapai US$ 4,6 miliar. Untuk bisa menggenjot ke angka US$ 10 miliar maka investasi harus masuk di wilayah Batam, Bintan dan Karimun.
Β 
Dikatakannya dengan sudah dibentuknya badan pengusahaan, dan ditambah sudah adanya pengalihan kewenangan dari pusat (Departemen Perdagangan) maka seharusnya angka itu bisa tercapai pada tahun ini.
Β 
"Dengan demikian tentunya prosedurnya menjadi pendek, sehinggga mempermudah ekspor atau impor untuk masuk kawasan. Seharusnya nggak ada kendala, badan bisa melaksanakan bisa tercapai," harapnya.
Β 
Target pencapaian dua kali lipat pada tahun ini yang sebesar US$ 10 miliar, memang tidak persis dari acuan nilai ekspor tahun 2005 sebesar US$ 6,1 miliar.
Β 
"Double itu tidak harus persis 100%, saya rasa US$ 10 miliar bisa tercapai," serunya.
Β 
Meskipun ia tidak memungkiri masih banyak kendala yang terjadi di FTZ Batam seperti masalah izin, tumpang tindih kepentingan dan peraturan dan lain-lain.
Β 
Berdasarkan hasil kerjasama penelitian antara lembaga manajemen FE UI dan Asia Competitiveness Institute Lee Kuan Yew School of Public Policy NUS, menyebutkan bahwa dalam FTZ Batam (sebelum BBK) cetak biru perencanaan FTZ Batam tidak implementatif dan tidak ada kerangka waktu yang tepat.
Β 
Penelitian itu menyebutkan seharusnya proses pelembagaan FTZ diarahkan pada peningkatan daya saing, namun kenyataanya indikator daya saing FTZ Batam terus anjlok yang dapat ditunjukan dari nilai ekspor antara tahun 2000-2004. Selain itu tumpang tindihnya regulasi menjadi salah biang keladi runyamnya permasalahan di FTZ Batam.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads