"BI sendiri melihat harga ini (bagaimana) dampak ke harga bahan pokok lainnya. Namun sejauh ini kita lihat stok minyak kita bagus, dampaknya tidak terlalu besar," kata Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (11/6/2009).
Hartadi menjelaskan, mengaca pada pengalaman sebelumnya, ekonomi Indonesia masih bisa bertahan meskipun harga minyak sempat menembus US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak pun harus dicermati apakah dipicu faktor permintaan atau spekulasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga minyak memang akhirnya menembus level US$ 72 per barel pada perdagangan di London, Kamis (11/6/2009). Harga ini adalah level tertinggi pada tahun ini setelah sempat anjlok di bawah US$ 40 per barel. Naiknya harga minyak ini diperkirakan karena anjloknya stok minyak di AS.
Seperti dilansir AFP, Kamis (11/6/2009) harga minyak jenis light sweet untuk pengiriman Juli 2009 sempat menembus US$ 72,18 per barel pada awal perdagangan. Namun kemudian harga minyak ini turun ke US$ 71,61 per barel meski masih lebih tinggi US$ 28 sen dari penutupan Rabu (10/6/2009).
Harga minyak jenis Brent North Sea untuk pengiriman Juli naik US$ 20 sen menjadi US$ 71 per barel.
Sementara International Energy Agency menyatakan, kenaikan harga minyak ini merupakan pertanda bahwa ekonomi dunia mulai membaik. Meningkatnya harga minyak, menurut IEA, disebabkan kenaikan permintaan akibat aktivitas ekonomi yang mulai pulih.
(lih/qom)










































