Alasannya karena para pengusaha sudah memiliki pengalaman sebelumnya yaitu dihadapi oleh kondisi ekstrim. Pergerakan harga minyak yang saat ini mulai merangkak naik hingga US$ 72 per barel mengingatkan pada kondisi 2 tahun lalu yaitu banyak kalangan dunia usaha atau pelaku ekonomi dibuat kelabakan.
Β
"Tapi karena kita sudah punya pengalaman tahun-tahun yang lalu, saya rasa dari sisi pelaku ekonomi maupun rating agency sudah memperkirakan risiko itu. Mereka tidak menganggap itu sebagai faktor yang sangat serius," katanya saat ditemui di kantorya Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (11/6/2009).
Β
Mengenai kenaikan harga minyak saat ini, Sri Mulyani mengatakan pemerintah telah mengantisipasinya dalam perubahan-perubahan asumsi dari sisi pendapatan maupun pengeluaran pada tahun ini maupun tahun depan.
Β
Menurutnya kenaikan harga minyak akan menimbulkan konsekuensi teehadap postur dan struktur APBN secara keseluruhan, termasuk dari sisi penerimaan maupun subsidi yang harus disediakan pada tahun ini maupun pada tahun depan.
Β
"Jadi, seperti yang terjadi dalam 3 tahun terakhir, harga minyak akan selalu menjadi faktor yang mempengaruhi seluruh postur APBN," jelasnya.
(hen/dnl)










































