"Yang mana, saya tidak tahu. Yang terakhir pulang dari sana tidak ada berita apa-apa," ujar Direktur Keuangan PLN, Setio Anggoro Dewo di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (10/6/2009) malam.
Dewo sendiri mengaku kaget saat dikonfirmasi wartawan soal hal tersebut. "Shock juga karena bulan depan dan bulan depannya lagi ada sign loan," kata Dewo.
Dewo menyatakan pihaknya akan mengecek soal berita tersebut. "Itu pembangkit yang mana, saya nggak tahu. Coba nanti saya cek dulu," tandasnya.
Senada dengan Dewo, Wakil Direktur Utama PLN, Rudiantara juga belum mengetahui soal tuntutan tersebut. "Belum tahu, saya malah baru dengar," kata Rudi saat dikonfirmasi detikFinance melalui sambungan telepon.
Dalam berita yang dilansir media China, caijing.com.cn pada 4 Juni 2009, salah satu produsen alat listrik dan mekanik terbesar China yaitu Shanghai Electric Group Co berencana menggugat PLN atas proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) senilai US$ 100 juta.
Media itu melansir PLN dinilai tidak mematuhi kontrak yang dibuat 2007 dimana Shanghai Electric akan membangun sebuah PLTU yang akan menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak di Jawa Barat.
Menurut narasumber caijing.com.cn, Shanghai Electric akan menggugat PLN karena enggan membangun pembangkit itu akibat keterbatasan dana dan jatuhnya harga minyak dunia diakhir tahun 2008.
(epi/lih)










































