Demikian disampaikan Mensesneg Hatta Rajasa di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Minggu (14/6/2009).
"Debt to GDP ratio kita sekarang sedikit di atas 30 persen yang sebelumnya jauh lebih besar bahkan pada sata krisis kita mendekati angka 100 persen. Kemudian pada waktu itu 50 persen pada jaman 2004, sekarang tinggal 30-an persen," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi yang lazim itu orang mengukur terhadap utang itu, adalah debt to GDP ratio. Jangan dilihat angka absolutnya. Kalau dilihat dari angka itu boleh saja tapi bandingkan juga. Kan GDP kita juga naik, pendapatan kita meningkat," tambahnya.
Cerminan dari peningkatan GDP ini terlihat dari pendapatan dan daya konsumsi masyarakat yang juga bertambah. Kondisi seperti ini menunjukkan tingkat kemampuan Indonesia untuk mengembalikan utang juga meningkat.
"Karena reserve Indonesia juga bertambah, pendapatan masyarakat bertambah, GDP kita juga meningkat hampir dua kali lipat. Jadi harus diukur dari debt to GDP rasio, artinya kemampuan kita juga untuk mengembalikan itu jauh lebih besar," ujarnya.
(lih/lih)











































