Demikian disampaikan Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin Indonesia Bambang Soesatyo dalam pesan singkatnya, Senin (15/6/2009).
"Kadin khawatir membengkaknya subsidi BBM akan disubstitusi dengan meniadakan anggaran yang dibutuhkan untuk stimulus ekonomi. Jangan sampai pemerintah melakukan hal ini, karena konsekuensinya adalah berlanjutnya pendalaman krisis," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kendati berdampak pada membesarnya subsidi BBM, pemerintah langsung meresponnya dengan sudah memastikan tidak menaikkan harga jual eceran BBM di dalam negeri," tambahnya.
Namun membengkaknya subsidi BBM ini diharapkan tidak ditambal dengan dana stimulus ekonomi. Salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan surplus dari penjualan BBM pada Desember 2008 dan awal 2009.
"Untuk memenuhi kebutuhan tambahan subsidi, pemerintah bisa menggunakan laba dari penjualan bensin premium yang hingga Januari 2009 sudah lebih dari Rp 2,06 triliun. Subsidi BBM 2009 sendiri ditetapkan Rp 57,6 triliun," katanya.
(lih/dro)











































