Selama ini pengembang sudah menghabiskan investasi untuk membebaskan lahan dan membangun perumahan, namun ternyata proyek mereka itu sulit mendapat pasokan daya listrik dari PLN.
Ketua Umum Asosiasi Pengembangan Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Fuad Zakaria mengatakan selama ini banyak anggotanya harus menanggung konsekuensi perumahan yang dibangunnya gelap gulita tanpa listrik padahal mereka sudah membeli lokasi tanah.
"Kita harapkan ada surat edaran dari PLN yang terkait informasi mengenai lokasi-lokasi yang tidak mungkin dibangun jaringan daya listrik, jadi tidak ada pembebasan lahan di sana," keluh Fuad dalam acara raker kerja gabungan dengan komisi V DPR RI, Senin (16/6/2009).
Dikatakannya selama ini anggota Apersi, fokus dalam pengembangan rumah segmen menengah ke bawah. Sehingga sudah seharusnya PLN memberikan dukungan dengan memberikan fasilitas daya listrik termasuk memberikan kemudahan pemasangan baru.
Diakuinya sekarang ini PLN mengalami kesulitan keuangan, dalam memperluas jariangan daya listrik ke beberapa lokasi. Sehingga ia pun bisa memahami tawaran PLN kepada pengembang untuk bisa membuat jarinagan sendiri termasuk pemasangan trafo dan lain-lain.
"Kami sebagai pedagang tidak menjadi masalah terhadap kondisi tertentu, tapi konsumen yang justru dibebankan," ucapnya.
Fuad menambahkan sekarang banyak sekali biaya-biaya yang dibebankan oleh PLN dengan berbagai macam jenis tarif kepada konsumen. Baya-biaya yang ada, kata dia bisa mencapai 7 macam yang perlu disederhanakan, termasuk biaya pemasangan baru dengan segala macam asesories mencapai Rp 3,750 juta.
"Kita mengalami selama 2-3 tahun, listrik tidak jalan, kami yang dikira yang menahan-nahan," keluhnya.
Sementara Dirut PLN Fahmi Mochtar mengatakan masalah kelistrikan diberbagai daerah berbeda-beda sehingga perlu penanganan yang berbeda pula. Ia mencontohkan dalam satu provinsi terkadang tidak mengalami masalah daya listrik namun sering kali terjadi di tingkat kabupatennya.
"Memang perlu duduk bersama-sama untuk perencanaan (pengembang)," jelas Fahmi.
(hen/lih)











































