Demikian disampaikan Menkeu sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani di sela-sela rapat dengan DPD di gedung DPR, Jakarta, Selasa (16/6/2009).
"Realisasi rata-rata sampai akhir tahun diperkirakan US$ 61 per barel. Subsidi BBM dan listrik pasti akan naik, karena kenaikan harga minyak mentah yang terjadi ini," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri Mulyani bahkan memprediksi harga minyak akan terus naik sehingga pada semester kedua rata-rata ICP mencapai US$ 70 per barel.
"Realisasi rata-rata sampai akhir tahun diperkirakan US$ 61 per barel. Meskipun pada semester dua harga minyak dunia mengarah ke US$ 70 per barel, tapi realisasi rata-rata US$ 61 itu karena di awal tahun harga minyak cukup rendah. Jadi prediksi rata-rata semester dua harga minyak US$ 70," katanya.
Sementara untuk rata-rata lifting minyak, sejak Desember 2008 hingga Mei 2009 baru mencapai 956.000 barel per hari atau masih di bawah target APBN sebesar 960.000 barel per hari.
"Tapi BP Migas bilang bahwa sampai akhir tahun ini rata-rata 960.000 bph sesaui APBN bisa tercapai," katanya.
(lih/qom)











































