Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Refor-Miner Institute Pri Agung Rakhmanto dalam pesan singkatnya kepada detikFinance , Kamis (18/6/2009).
"Memang, keputusan ini bisa berdampak batalnya atau tertundanya proyek ini, yang berarti juga batal atau tertundanya penerimaan negara. Untuk jangka pendek, dalam konteks finansial, memang sepertinya ini tidak positif," katanya.
Namun dengan memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, maka banyak efek domino ekonomi yang bisa dihasilkan. Jadi, meski tidak mendapat penerimaan negara dalam beberapa tahun di depan, namun ekonomi domestik jangka panjang bisa bergerak.
"Tapi untuk jangka panjang, dalam konteks security energy supply untuk domestik dan manfaat ekonomi yang lebih luas yang bisa dihasilkan, bisa jadi justru lebih baik," katanya.
Seperti diketahui, pemerintah akhirnya sepakat untuk mengalokasikan seluruh gas Senoro ke pasar dalam negeri. Hal ini mengundang polemik karena para pelaku proyek (Pertamina, Medco dan Mitsubishi) sudah mengalokasikan gas tersebut untuk diekspor ke Jepang.
Pembeli Jepang pun banyak yang berminat bahkan sudah menyetujui formula harga. Pokok-pokok kesepakatan atau Head of Agreement (HoA) pun sudah disiapkan.
"HoA itu urusan b to b yang mestinya tidak dijadikan sebagai alat penekan agar keputusan masalah alokasi gas ini harus untuk ekspor. Justru mestinya HoA itu yang patut dipertanyakan, belum dapat persetujuan resmi dari pemerintah kok sudah ada duluan," tambahnya. (lih/dnl)
