Produksi CPO Sumbang US$ 7,868 Juta

Produksi CPO Sumbang US$ 7,868 Juta

- detikFinance
Selasa, 23 Jun 2009 10:03 WIB
Produksi CPO Sumbang US$ 7,868 Juta
Jakarta - Peranan produksi Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit telah memberi sumbangan yang cukup besar kepada pendapatan non migas, sumbangan tersebut terus meningkat hingga mencapai US$ 7,868 juta atau total sebesar 8,54 persen dari pangsa pasar pendapatan nasional.

Peluang pengembangan CPO terhadap ekspor non migas masih terbuka luas, namun di sisi pemasaran CPO saat ini Indonesia belum berperan banyak.

Pasar CPO global masih mengacu pada pasar fisik Rotterdam dan pasar berjangka/derivative di Kuala Lumpur (MDEX) sebagai harga pasar CPO dunia.

Mengingat persaingan global komoditi CPO yang semakin ketat, serta pemasaran CPO melalui KPB-PTP Nusantara yang dirasa kurang, akhirnya Indonesia akan membuka jalur pemasaran melalui Bursa Berjangka Indonesia (BBJ).

Direktur Utama BBJ, Hasan Zein Mahmud mangatakan bahwa dengan dimulainya perdagangan CPO melalui BBJ maka diharapkan industri-industri pemakai bahan baku CPO, mempunyai kesempatan yang lebih luas dalam kegiatan pembelian

"CPO merupakan komoditas agroindustri terpenting dan selalu menjadi sorotan dalam kinerja ekspor non migas Indonesia. Saat ini jumlah dan nilai ekspor CPO Indonesia sampai dengan kuartal I-2009, mencapai 60 persen dari total perdagangan CPO dunia," jelasnya dalam Peresmian Pasar Fisik CPO Terorganisir BBJ, di Hotel Four Seasons, Jakarta, Selasa (23/06/09).

Menurutnya, dengan adanya pasar fisik CPO yang terorganisir maka akan memudahkan baik produsen maupun konsumen pada saatnya nanti telah dipandang perlu untuk mempersiapkan pasar derivative sehingga dapat melakukan pengelolaan risiko harga atas barang produksi atau barang siap serahnya (deliverable stock) dengan metodologi bisnis yang bersifat Market Based Approach.

Ditempat yang sama Menteri Negara (Menneg) BUMN, Sofyan Djalil berharap dimulainya pasar fisik CPO yang diawali oleh PT Perkebunan Nusantara dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), nantinya akan diikuti oleh perusahaan swasta lainnya.

"Saya mengharapkan kepada pihak stakeholder-stakeholder untuk dapat memasarkan produknya secara langsung di pasar," tuturnya.

Senada dengan Menneg BUMN, Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu juga berharap dengan terbentuknya pasar fisik CPO terorganisir secara on-line di BBJ, para pelaku usaha baik penjual maupun pembeli dapat melakukan transaksi secara efisien, efektif, wajar dan transparan.

"Selain itu pasar fisik ini akan menjadi acuan dalam penetapan harga CPO internasional," pungkasnya.
(dru/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads