Sekarang ini rata-rata ekspor tekstil dari negara-negara ASEAN ke dunia hanya US$ 26 miliar termasuk diantaranya US$10,6 miliar disumbang oleh Indonesia.
"ASEAN di tahun 2012 akan menjadi satu pasar ASEAN single window , barang yang masuk ke ASEAN akan terkontrol, ASEAN selain menjadi pasar akan menjadi supplier dunia," kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno di Kantor Departemen Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/6/2009).
Menurutnya Indonesia dan Thailand akan menjadi pusat supplier tekstil di pasar ASEAN, sedangkan Laos dan Vietnam akan menjadi pemasok utama untuk produk tekstil (garmen) dari ASEAN.
"Ekspor ASEAN US$ 26 miliar ke seluruh dunia kita ingin double , bisa selama 5 tahun ke depan, sampai US$ 50 miliar, Indonesa menyumbang US$ 10 miliar itu sudah besar," ucap Benny.
Untuk itu ia mengharapkan agar pemerintah mempercepat pengembangan kawasan perdagangan bebas, termasuk dalam menentukan kebijakan pajak yang lebih pro investasi.
"Jangan sampai kita kalah dengan Singapura, dalam mendirikan perusahaan di Singapura, maka pajak penghasilannya hanya 10%, termasuk adanya trade financing ," ucapnya.
Sementara itu Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian Ansari Bukhari mengatakan selama ini pasokan tekstil di dalam negeri hanya mencapai 40% dari kebutuhan, sedangkan untuk ekspor sebesar 60%. Ia mengharapkan ke depannya kebutuhan TPT dalam negeri harus semakin banyak dipenuhi dari dalam negeri.
"Kita bisa meningkatkan pangsa pasar kita di dalam negeri, bagaimana kita isi dari produk-produk kita, bukan produk-produk luar. Bagaimana industri tekstil menjadi tuan di negerinya sendiri," harap Ansari.
Ekspor Tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia pada tahun 2008 mencapai US$ 10,03 miliar atau meningakat 3,59% dari tahun 2007 lalu.
(hen/dnl)











































